Monday, 24 October 2016

Upaya penguasaan Jakarta, C.O.G (center of gravity)

Upaya penguasaan Jakarta,

C.O.G (center of
gravity) Indonesia harus menjadi perhatian
semua anak bangsa.
Saya merasa prihatin melihat perkembangan
yang terjadi di negeri kita ini, media telah berhasil
mengombang ngambingkan perasaan dan
pemikiran anak bangsa sehingga konsentrasinya
benar2 terbelah, tidak fokus terhadap bahaya
besar yang ada dibelakangnya. Demokrasi telah
memporak porandakan bangsa ini. Bertolak pada
keprihatinan tersebut, dengan segala
keterbatasan, saya mencoba membuat analisa
dikaitkan dengan upaya kerasnya Gubernur DKI
untuk memenangkan kembali Pilgub 2017.
Indonesia sebagai negara yang kaya akan
sumberdaya alam, sedangkan China dengan
penduduk hampir 2 Milyar dengan sumberdaya
alam terbatas sangat tergiur sekali terhadap
Indonesia. Ada 3 elemen kekuatan yang dicoba di
galang dalam upaya menguasai Indonesia.
NASIONALISME CHINA.
Prinsip dasar keluarga, ikatan keluarga
memberikan semangat untuk bersatu dan
bergerak menyelesaikan segala problematik hidup
yang dihadapi manusia. Semangat ini yang
dipelihara dan digaungkan terus dan dipakai
sebagai landasan untuk menetapkan
kebijaksanaan " Dwi Kewarganegaraan " yang
tetap mengakui warga china rantaunya sebagai
warga negaranya dan kebijaksanaan ini diperkuat
dengan " Dokrin Satu China " dan ditindak lanjuti
dengan program "Ras China Raya " yang
mendorong warga china keliar dari negaranya
untuk berbisnis dan kalau mungkin menjadi
pejabat di negara tsb. Untuk hal ini Pemerintah
China tidak main2 dan memberikan dukungan
penuh untuk meraih tujuan tersebut. Program
tersebut sangat diuntungkan dalam alam
demokrasi.
POSISI CHINA DI INDONESIA
1. Pra Kemerdekaan
Dikeluarkan undang2 tentang strata masyarakat
Nusantara yang menetapkan strata 1 adalah
Warga Belanda/kulit putih, strata 2 adalah
bangsa2 timur jauh/China, Arab, sedangkan
strata 3 adalah penduduk Pribumi, secara tidak
langsung telah memberikan keuntungan kepada
warga China. Pada saat itu etnis China dipakai
sebagai mediator dengan pribumi, utamanya
yang berkaitan dengan ekonomi. Posisi ini
dimanfaatkan dengan baik oleh etnis China,
karena pada dasarnya China sangat
mengutamakan keamanan " keluarga dan
bisnisnya ", mereka rela memberikan hartanya
asal keamanannya terjamin, pada sisi lain tetap
memelihara hubungan dengan Pribumi untuk
mempertahankan sumber2 ekonomi yang
diperlukan Belanda. Take and give yang menjadi
tradisi China dengan Penguasa, melahirkan
peluang emas dalam kehidupan China di
Indonesia. Pada saat Belanda meninggalkan
Indonesia, jaringan perekonomian yang dibangun
Belanda secara tidak lansung menjadi milik warga
China.
2. Kemerdekaan.
Keberuntungan menguasai jaringan
perekonomian/perdagangan telah memberikan
peluang yang luas dalam perjalanan NKRi. Tradisi
2 kaki tetap dipelihara dengan baik, memelihara
hubungan keatas dalam ini Pemerintah/Penguasa
dan rakyat. Karena jaringan ekonomi/
perdagangan dikuasai, maka tidak dapat
disalahkan kalau saat ini China menguasai
perekomian kita. Penguasaan perekonomian
dinilai sebagai potensi kekuasaan potensial dan
etnis China memainkan potensi kekuasaan
tersebut dengan efektif, maka mereka telah
masuk dalam katagori " sebagai Pelaku kekuasaan
yang aktual ". Kekuasaan terhadap satu sumber
cenderung akan melahirkan sumber kekuasaan
yang baru. Huhungan keatas/penguasa yang
tetap dipelihara dengan baik, lama kelamaan telah
berbalik menjadikan " penguasa tersandera ".
Pada muaranya banyak kebijakan tidak lagi
berpihak pada kepentingan rakyat, tapi berpihak
pada kepentingan pengusaha.
KONDISI LINGKUNGAN
1. Demokrasi
Demokrasi di Indonesia secara tidak langsung
membantu program " Ras China Raya ", sehingga
diantara Taipan telah melangkah satu langkah
kedepan dengan menghapus kata " orang
Indonesia asli ", pada pasal 6 (1) UUD 1945,
menjadi warga negara Indonesia
2. Isu Ras Mongoloid
Didengung-dengungkan bahwa bangsa Indonesia
adalah keturunan dari Ras Mongoloid.
3. Wali 9 adalah orang2 China.
Tiga elemen tsb, dicoba disatukan China untuk
menguasai Jakarta sebagai Center of Gravity,
penguasaan Jakarta maka secara politis
menguasai Indonesia.

Oleh : bpk Slamet Soebijanto

No comments:

Post a Comment