Monday, 24 October 2016

Upaya penguasaan Jakarta, C.O.G (center of gravity)

Upaya penguasaan Jakarta,

C.O.G (center of
gravity) Indonesia harus menjadi perhatian
semua anak bangsa.
Saya merasa prihatin melihat perkembangan
yang terjadi di negeri kita ini, media telah berhasil
mengombang ngambingkan perasaan dan
pemikiran anak bangsa sehingga konsentrasinya
benar2 terbelah, tidak fokus terhadap bahaya
besar yang ada dibelakangnya. Demokrasi telah
memporak porandakan bangsa ini. Bertolak pada
keprihatinan tersebut, dengan segala
keterbatasan, saya mencoba membuat analisa
dikaitkan dengan upaya kerasnya Gubernur DKI
untuk memenangkan kembali Pilgub 2017.
Indonesia sebagai negara yang kaya akan
sumberdaya alam, sedangkan China dengan
penduduk hampir 2 Milyar dengan sumberdaya
alam terbatas sangat tergiur sekali terhadap
Indonesia. Ada 3 elemen kekuatan yang dicoba di
galang dalam upaya menguasai Indonesia.
NASIONALISME CHINA.
Prinsip dasar keluarga, ikatan keluarga
memberikan semangat untuk bersatu dan
bergerak menyelesaikan segala problematik hidup
yang dihadapi manusia. Semangat ini yang
dipelihara dan digaungkan terus dan dipakai
sebagai landasan untuk menetapkan
kebijaksanaan " Dwi Kewarganegaraan " yang
tetap mengakui warga china rantaunya sebagai
warga negaranya dan kebijaksanaan ini diperkuat
dengan " Dokrin Satu China " dan ditindak lanjuti
dengan program "Ras China Raya " yang
mendorong warga china keliar dari negaranya
untuk berbisnis dan kalau mungkin menjadi
pejabat di negara tsb. Untuk hal ini Pemerintah
China tidak main2 dan memberikan dukungan
penuh untuk meraih tujuan tersebut. Program
tersebut sangat diuntungkan dalam alam
demokrasi.
POSISI CHINA DI INDONESIA
1. Pra Kemerdekaan
Dikeluarkan undang2 tentang strata masyarakat
Nusantara yang menetapkan strata 1 adalah
Warga Belanda/kulit putih, strata 2 adalah
bangsa2 timur jauh/China, Arab, sedangkan
strata 3 adalah penduduk Pribumi, secara tidak
langsung telah memberikan keuntungan kepada
warga China. Pada saat itu etnis China dipakai
sebagai mediator dengan pribumi, utamanya
yang berkaitan dengan ekonomi. Posisi ini
dimanfaatkan dengan baik oleh etnis China,
karena pada dasarnya China sangat
mengutamakan keamanan " keluarga dan
bisnisnya ", mereka rela memberikan hartanya
asal keamanannya terjamin, pada sisi lain tetap
memelihara hubungan dengan Pribumi untuk
mempertahankan sumber2 ekonomi yang
diperlukan Belanda. Take and give yang menjadi
tradisi China dengan Penguasa, melahirkan
peluang emas dalam kehidupan China di
Indonesia. Pada saat Belanda meninggalkan
Indonesia, jaringan perekonomian yang dibangun
Belanda secara tidak lansung menjadi milik warga
China.
2. Kemerdekaan.
Keberuntungan menguasai jaringan
perekonomian/perdagangan telah memberikan
peluang yang luas dalam perjalanan NKRi. Tradisi
2 kaki tetap dipelihara dengan baik, memelihara
hubungan keatas dalam ini Pemerintah/Penguasa
dan rakyat. Karena jaringan ekonomi/
perdagangan dikuasai, maka tidak dapat
disalahkan kalau saat ini China menguasai
perekomian kita. Penguasaan perekonomian
dinilai sebagai potensi kekuasaan potensial dan
etnis China memainkan potensi kekuasaan
tersebut dengan efektif, maka mereka telah
masuk dalam katagori " sebagai Pelaku kekuasaan
yang aktual ". Kekuasaan terhadap satu sumber
cenderung akan melahirkan sumber kekuasaan
yang baru. Huhungan keatas/penguasa yang
tetap dipelihara dengan baik, lama kelamaan telah
berbalik menjadikan " penguasa tersandera ".
Pada muaranya banyak kebijakan tidak lagi
berpihak pada kepentingan rakyat, tapi berpihak
pada kepentingan pengusaha.
KONDISI LINGKUNGAN
1. Demokrasi
Demokrasi di Indonesia secara tidak langsung
membantu program " Ras China Raya ", sehingga
diantara Taipan telah melangkah satu langkah
kedepan dengan menghapus kata " orang
Indonesia asli ", pada pasal 6 (1) UUD 1945,
menjadi warga negara Indonesia
2. Isu Ras Mongoloid
Didengung-dengungkan bahwa bangsa Indonesia
adalah keturunan dari Ras Mongoloid.
3. Wali 9 adalah orang2 China.
Tiga elemen tsb, dicoba disatukan China untuk
menguasai Jakarta sebagai Center of Gravity,
penguasaan Jakarta maka secara politis
menguasai Indonesia.

Oleh : bpk Slamet Soebijanto

Saturday, 15 October 2016

DEGRADASI MORALITAS KEPAHLAWANAN

DEGRADASI MORALITAS KEPAHLAWANAN

Kata "Kepahlawanan" berasal dari kata dasar pahlawan + awalan ke dan akhiran an. Yang punya arti pengakuan semesta (lingkungan) terhadap perbuatan seseorang yang memperjuangankan tata nilai kebenaran dengan cara fisik ataupun intelektual yang sedang ditindas oleh nafsu angkara murka yang ditimbulkan oleh seseorang atau golongan atau bahkan negara (asing) dalam bentuk penjajahan atau penindasan atau lainnya.

Tokoh Pahlawan lahir atas kesadaran sendiri yang bersangkutan atau bisa juga akibat tekanan kondisi lingkungannya. Mempunyai nyali tinggi dan semangat berkorban luar biasa guna mencapai tujuan luhur, bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk kepentingan masyarakat luas yang diperjuangkannya.

Sosok pahlawan ada yang lahir karena keturunan, dimana genetika kepemimpinan dan pejuangan tangguh diturunkan oleh pendahulunya. Genetika tersebut bisa tampak pengaruhnya dan bisa juga tertidur karena sang anak keturunan terlena dan tidak melatih atau menggunakan karakter sifat mulia dari pendahulunya.

Dilain sisi, ada juga orang biasa tanpa riwayat kepahlawanan dari pendahulunya tetapi ditempa oleh kondisi lingkungannya ... juga mampu muncul sebagai tokoh pahlawan bagi semesta.

Mana yang lebih baik dari keduanya, yang terbaik adalah kombinasi dari keduanya. Pahlawan yang lahir dari genetika keluarga pahlawan yang teruji dharma bhaktinya pada negara, dan tertempa kondisi lingkungan sehingga senantiasa menyiapkan diri bagi sikap bela negara dan bangsanya. Menjaga genetika kepahlawanan dalam tubuhnya agar tidak tertidur atau terlena karena nafsu pribadinya.

Bagaimana dengan yang ada saat ini ?
Cukup banyak sebenarnya bibit pahlawan bertebaran disekeliling kita, mengingat negeri ini merdeka lewat hasil perjuangan panjang. Tak terhitung banyaknya pahlawan dari Sabang hingga Merauke dan itu menurunkan genetika pahlawan pada tubuh kita semua.

Mengapa saat ini negara carut marut dan bagaimana sikap mereka terhadap upaya perjuangan kebangsaan ?
Benar, diantara kecarut marutan atau gejolak kebangsaan yang dipicu oleh segala bidang ... akan menyebabkan tekanan lingkungan yang melahirkan tokoh pahlawan. Tetapi benar juga bahwa saya juga jarang melihat kita semua para pewaris sifat pahlawan, memunculkan karakter pahlawan yang melawan upaya penjajahan dan penindasan yang terjadi disekeliling kita. Tidak jarang para anak keturunan tersebut justru kehilangan naluri pejuangnya akibat godaan nafsu pribadinya. Atau kehilangan keberanian dan takut atas pedihnya perjuangan malah cenderung main aman demi kepentingan pribadi, keluarga dan golongannya.

Bila pendahulunya pejuang tangguh, saat ini belum tentu anak keturunannya berani melakukannya. Dan itu sesungguhnya perbuatan mencoreng malu nama besar keluarga yang dilakukan dengan sadar. Tetapi tidak semuanya demikian, ada anak keturunan pejuang tangguh yang berjuang sama tangguhnya dengan pendahulunya memperjuangkan tata nilai kebenaran semesta. Juga lahir pahlawan-pahlawan baru dari medan perjuangan modern dengan alat perjuangan yang berbeda, semangat berbeda tetapi tujuan yang sama : melindungi kebenaran dipersada pertiwi agar seluruh rakyat merasakan Keadilan dan Kemakmuran.

Tidak banyak memang jumlah pahlawan dan pejuang bila dibandingkan dengan jumlah penduduk negeri ini. Tetapi disadari atau tidak, merekalah MATAHARI KEJAYAAN yang perbuatan dan pemikirannya ditunggu banyak pihak guna menyingkirkan kegelapannya bangsa.

Sekarang tergantung anda ... apakah anda termasuk anak keturunan yang terdegradasi (turun kelas) ataukah yang mampu mempertahankan nilai kejuangan demi bangsa dalam setiap pemikiran dan tindakan anda. Yang lebih penting janganlah anda jadi golongan oppurtunitis yang cari selamat dengan mengabaikan tata nilai kebenaran serta menghalalkan segala cara bahkan rela mengorbankan martabat dan kedaulatan bangsa ... ITU NAMANYA PENGKHIANAT ... DAN CEPAT ATAU LAMBAT KALIAN AKAN TERTUMPAS JUGA ... BERULANGKALI SEJARAH TERTULIS SEPERTI ITU ... WASPADALAH ...

Copas dari sahabat:
Jaya - Jaya - Wijayanti
Jember, 15 Oktober 2016
Deddy Endarto Wilwatikta untuk NILAI KEPAHLAWANAN DAN KEJUANGAN YANG LUNTUR DI DADA ANAK BANGSA ... JANGAN PERMALUKAN PENDAHULUMU ...

Friday, 14 October 2016

Dibalik kisah bencana di Mekkah bulan September 2015

SANGAT MENARIK.
===============
Dibalik kisah bencana di Mekkah bulan September 2015
Benda Misterius Tabut Bahtera Gabriel dipindahkan dari Saudi Arabia ke Antartika
Tentara Rusia diberi tugas khusus untuk melindungi objek religius "Tabut Gabriel" ketika sedang diangkut ke Antartika pada tanggal 27 September 2015.
"Tabut Gabriel" disebutkan penting bagi keagamaan militer, sehingga Presiden Putin memerintahkan sejumlah besar kapal perang angkatan laut untuk memandu perjalanan dari Arab Saudi ke Antartica.
Laporan ini menjelaskan apa yang memicu misi menakjubkan ini, yaitu ketika pada 25 September Yang Dimuliakan Kirill dari Moskow di hubungi oleh perwakilan Juru Kunci Dua Masjid Suci di Mekkah, Arab Saudi, mengenai "perangkat / senjata" kuno misterius yang telah ditemukan di bawah Masjid al-Haram (Masjid Agung) ketika menggali sebuah proyek konstruksi yang sangat kontroversial dimulai pada tahun 2014.
Kekhawatiran perwakilan Masjid Agung ini meningkat ketika "perangkat / senjata" misterius ini ditemukan pada tanggal 12 September oleh 15 penggali terowongan yang ketika mencoba untuk mengangkatnya langsung terbunuh oleh ledakan "emisi plasma" yang begitu kuat sehingga menyembur keluar dan menjatuhkan derek konstruksi dan mengakibatkan meninggalnya sedikitnya 107 jamaah haji.
Malapetaka tidak berhenti sampai disini, laporan ini mencatat, dua minggu setelah upaya pertama untuk mengangkat "perangkat / senjata" misterius ini, pada tanggal 24 September dilakukan lagi usaha pengangkatan benda misterius ini yang kemudian menewaskan lebih dari 4.000 jemaah disebabkan oleh ledakan "emisi plasma" yang dahsyat mengakibatkan kepanikan puluhan ribu jemaah dan para pejabat Saudi kemudian mengatakan bahwa kematian para jemaah disebabkan karena kelalaian jemaah dan terinjak-injak .
Setelah terjadinya bencana kematian yang melibatkan upaya Saudi kedua untuk mengeluarkan "perangkat / senjata" misterius ini dari dalam tanah, Yang Dimuliakan Kirill kemudian dihubungi oleh utusan Masjid Agung sehubungan dengan salah satu manuskrip Islam tertua yang dimiliki oleh Gereja Ortodoks Rusia yang telah diselamatkan dari Tentara Salib Katolik Roma di 1204 ketika mereka menghancurkan Gereja Kebijaksanaan Suci (sekarang dikenal sebagai Hagia Sophia) di Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki) berjudul "Petunjuk Gabriel Untuk Muhammad".
Penting untuk dicatat, laporan ini menjelaskan, dan hampir tidak dikenal di Barat, adalah bahwa Perang Salib Katolik Roma (dan seperti yang tercermin sampai hari ini) tidak hanya anti kepada orang-orang yang beragama Islam, tetapi juga terhadap Ortodoks Rusia dan itulah mengapa , selama Perang Salib ini, Gereja Ortodoks Rusia tidak hanya melindungi perpustakaan agama mereka sendiri dari kehancuran, tetapi juga mereka yang termasuk Muslim.
Untuk isi naskah Islam kuno ini, "Instruksi Gabriel Untuk Muhammad", laporan ini secara singkat mencatat, itu berkisar mengenai instruksi yang diberikan kepada Muhammad oleh Malaikat Jibril di sebuah gua bernama Hira, yang terletak di gunung yang disebut Jabal an- Nour, dekat Mekkah, dimana mahluk surgawi ini memberikan kepercayaan kepada Muhammad untuk merawat "kotak / bahtera" dari "kekuatan besar" dan dilarang untuk digunakan karena bahtera ini milik Allah dan Muhammad diperintahkan untuk menguburnya di tempat suci di "tempat pemujaan para Malaikat sebelum penciptaan manusia" sampai masa pengungkapan di masa depan pada hari-hari Yawm al-Qiyamah, atau Qiyamah, yang secara harfiah berarti "hari Kebangkitan".
Seperti apa "senjata / perangkat" misterius ini sebenarnya, kita tidak diizinkan dan mematuhi untuk mempublikasikan bahkan sekilas sedikit saja dari apa yang terjadi di balik dinding Kremlin saat ini.
Sumber: http://bendedreality.com/mysterious-object-ark-of-gabriel-…/
http://www.whatdoesitmean.com/index1955.htm
Isti Rudiretno - SOULSTAR INDONESIA
birru sadhu
APAKAH TABUT ITU?
TABUT sebagaimana yang diceritakan dalam al-Quran adalah satu anugerah Allah kepada Bani Israel. Di dalamnya terdapat sebuah kitab suci. Ia berukuran tiga hasta panjang dan dua hasta lebar. Ia mempunyai berbagai-bagai keistimewaan. Tabut tersebut boleh memberikan ketenangan dan semangat kepada sesiapa sahaja yang melihatnya. Ia mampu mengalahkan pihak lawan dalam peperangan. Sekiranya Tabut itu dibawa ketika berperang, sudah pasti pihak musuh akan berasa gentar dan tewas.
Malangnya, Bani Israel tidak tahu mensyukuri anugerah yang diberikan itu. Mereka mengingkari segala perintah Allah s.w.t.. Mereka banyak memalsukan kitab suci mereka. Mereka juga ingkar dengan ajaran Nabi Samuel. Pada zaman tersebut, Nabi Samuel diutuskan oleh Allah untuk menyeru mereka ke jalan kebenaran. Semasa kecil Nabi Samuel telah dididik dan dibesarkan oleh orang yang alim. Baginda kemudiannya diajar dengan ajaran Nabi Musa dan juga kitab sucinya iaitu Taurat. Setelah dewasa dan menjadi utusan Allah, Nabi Samuel mula berdakwah kepada Bani Israel supaya menyembah Allah tetapi mereka ingkar. Malah, mereka tidak percaya akan kenabian Nabi Samuel. Mereka menuduhnya sebagai pendusta. Bani Israel telah mencabarnya agar menunjukkan bukti kenabiannya. Lalu Allah menarik balik keistimewaan yang diberikan kepada Bani Israel itu. Dia menukarkannya dengan memberi kekuatan dan keberanian kepada orang-orang Palestin. Ketika Palestin berperang dengan Bani Israel, mereka berjaya mengalahkan Bani Israel dengan mudahnya. Bani Israel telah diusir dari Jerusalem. Tabut yang menjadi azimat mereka selama ini telah dirampas.
Gambar di atas merupakan gambaran replika benda yang paling ditakuti pada masa Perjanjian Lama. Setidaknya begitulah gambarannya. keberadaanya dulu begitu kuat dan sangat berpengaruh terhadap bangsa Israel semenjak peristiwa exodus keluar dari Tanah Mesir. Namun, benda itu kini telah hilang ditelan masa, lenyap dari sejarah, dan tak ada yang tahu dimana letaknya sekarang. Postinganku kali ini akan mencoba mengisahkan sejarah dari benda tersebut. Dimulai dari Yerusalem, Kota yang mungkin terlalu suci bagi banyak orang. Di tengahnya terletak sebuah bukit bernama Gunung Moria, yang kini menjadi situs Dome of the Rock / Qubbah As-Sakhrah yang luar biasa. Selain Dome of the Rock, dikompleks tersebut (Al-Haram ash-Sharif) terdapat Masjidil Aqsha. Dari sini, Muhammad s.a.w dinaikan ke langit (Sidratul Muntaha) dalam peristiwa Mi’raj. Jauh Sebelum itu nabi Isa a.s menyembuhkan orang buta dan sakit di sini, sehingga kaum Kristiani juga menyebutnya tanah suci. 1000 tahun sebelumnya, nabi Sulaiman a.s membangun bait aslinya di gunung ini untuk menyimpan benda misterius yang disebut the Ark of the Covenant / Tabut perjanjian.
Di masa itu, tempat ini adalah pusat dari agama Yahudi. Bagaimana tabut itu sampai disini dan bagaimana bisa lenyap dari sini? itulah teka-teki yang mengundang obsesi. Apa yang terjadi pada benda terpenting di perjanjian lama ini sehingga bisa lenyap begitu saja? Kisah Tabut itu berawal lebih dari 3000 tahun yang lalu. Seseorang memimpin 2 juta orang ke Gurun Sinai. Orang itu adalah Moses/Musa a.s yang memimpin kaumnya keluar dari perbudakan di Mesir. Tiga bulan mengembara setelah mukjizat terbelahnya laut merah, Ia membawa orang Israel ke Gunung Sinai. Tuhan akan melimpahkan hadiah yang belum pernah ada bagi umat manusia. Dari ratusan hukum yang ada di dalam Perjanjian Lama semuanya seolah diturunkan dari suatu tempat. Tapi tidak dengan 10 hukum besar yang dibawa Musa turun dari Gunung Sinai ini. Ada sepuluh perintah Allah yang diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai, dan perintah-perintah itu tertulis pada dua loh batu. Musa juga membuat tempat/wadah yang digunakan untuk menyimpan sepuluh perintah Allah yang disampaikan kepadanya di Gunung Sinai ,yaitu apa yang kita sebut sebagai Tabut Perjanjian. Tabut itu dibuat sangat spesifik, berwujud peti kayu dengan panjang 1,2 meter, lebar 61 cm, dan tinggi 61 cm. Terbuat dari kayu keras yang disebut akasia, bagian luar dan dalamnya disepuh dengan emas murni. Di sudut-sudut tabut harus ada 4 cincin emas, dimana kayu pengusung yang juga disepuh dengan emas dapat dimasukkan untuk membawa Tabut tersebut. Tutupnya yang juga disebut sebagai “tumpuan kaki tuhan” harus juga terbuat dari emas murni, dimana Patung Mailakat bersayap emas (kerubim) juga diletakkan di ujung-ujung atasnya dan saling berhadapan.
Ilustrasi mengenai turunnya 10 Perintah Allah di Gunung Sinai yang disampaikan kepada Musa
Tabut itu berfungsi sebagai sambungan langsung bagi Musa pada Tuhan. Akan muncul awan cerah diatas tutup emas di antara kerubim itu saat Tuhan ingin menyampaikan sesuatu pada hamba-Nya. Tuhan memerintahkan hanya pendeta dari suku Lewi yang bisa membawanya. Berat tabut itu mungkin beberapa ratus pon, tapi menurut legenda ia bisa terangkat sendiri walaupun tidak ada seorangpun yang mengangkatnya. Tidak ada seorangpun, bahkan pendeta Lewi yang boleh menatapnya. Jadi, mereka selalu menutupinya dengan kain biru dan kulit binatang. Sejak awal, tabut itu sudah menampakkan sisi berbahaya. Beberapa hari kemudian, dua keponakan Musa mencoba memberikan persembahan kepada Tabut itu dan keduanya langsung mati terbakar. Menurut legenda, kerubim itu memercik tanpa henti, menghanguskan orang dan benda yang menyentuhnya.
Tabut itu mendampingi Kaum Israel 40 tahun lama-nya selama mereka mengembara dan berperang. Bersama tabut itu, orang Israel mampu menaklukkan tanah yang dijanjikan. Benda ini mengandung kekuatan dan kepentingan yang tak terbayangkan. Menurut cerita dalam Alkitab Yahudi, tabut itu dibawa di depan pasukan dalam setiap pertempuran, tiap pertempuran selama penaklukkan orang Israel akan tanah Kanaan. Ia terus menerus dibawa dalam perang agar musuh dapat terkalahkan dan Tabut itu akan selalu berada di garis depan. Ada catatan luar biasa bahwa tabut itu terangkat dari tanah dan terbang menuju kearah musuh sambil mengeluarkan suara-suara erangan. Satu orang malang bernama Uza, hanya berniat menstabilkan Tabut tersebut saat tampak goyah sewaktu diangkat oleh para pendeta Lewi, dan ia langsung terbakar. sesudahnya, Musa memerintahkan agar dibuatkan kemah/tenda untuk meletakkan Tabut itu. Bukan untuk melindunginya dari orang, tapi justru sebaliknya.
Kemenangan militer pertama dan paling terkenal dari tabut itu yaitu runtuhnya tembok kota Yerikho/Jericho. Pendeta Lewi yang bertugas membawa Tabut, mengangkutnya mengitari kota bertembok itu sekali sehari selama 6 hari. Di hari ke-7, mereka berkeliling 7 kali dan menyuruh meniup sengkala. Seketika itu juga tembok kota itu pun runtuh. Route of the Exodus 300 tahun kemudian, Tabut itu meninggalkan orang Israel dan dampaknya sangat buruk bagi mereka. Saat pendeta tinggi mengabaikan kewajiban kurban mereka , Tabut itu tak melindungi mereka dalam perang melawan orang Filistin. 30 ribu orang tewas dan orang Filistin mengambil tabut itu. Namun, tujuh bulan kemudian orang Filistin mengembalikannya. Wabah borok dan tikus merebak akibat Tabut itu. Akhirnya, di bawah King David ( Daud a.s ), orang Israel bisa mengalahkan orang Filistin, lalu memenangkan pertahanan terakhir dari pihak lawan. Kemudian, Kota Yerusalem yang dijadikan ibukota. Tuhan menyuruh Daud mendirikan Bait Suci untuk menempatkan tabut tersebut, tapi puteranya Salomo/Sulaiman a.s yang mebangunnya. Karena kasus itu, Gunung Moria menjadi “titik tertinggi” di dalam kota tersebut. Visi Salomo untuk Bait itu tak seperti yang pernah dilihat orang.
Gereja Zion of Mary di Axum Utopia adalah dipercayaai tempat dimana Tabut tersebut disembunyikan
Hanya kayu cedar dan batu terbaik yang dipakai untuk membuatnya, dan titik tertingginya menjulang hingga 20 lantai. Salomo berhutang besar untuk membangunnya, karenanya ia harus memberikan 20 desa terdepan untuk kerajaan tetangga. Setelah memeriksa masih berisi dua buah batu sepuluh perintah Allah yang tersimpan didalam Tabut, Salomo lalu menempatkannya di tengah-tengah Bait Suci Mahakudus. Hanya pendeta tinggi saja yang bisa mendekati dan memasuki ruang penyimpanan tersebut, itupun mereka harus masuk dengan menggunakan pakaian khusus sambil membakar dupa. Lalu, bagaimana benda penting yang berisi kehadiran Allah bisa lenyap begitu saja? Sekarang, di manakah tabut itu berada? itulah teka-teki terbesarnya . Banyak orang masih mencari tabut tersebut hingga saat ini, dan itu dimulai dari Bait Suci yang dibangun Salomo sebagai tempat untuk menyimpan Tabut. Tapi kini, tak ada satupun artifak atau batu yang menunjukkan mana tepatnya tabut itu berdiri di Bukit Bait Suci Yerusalem. Tembok ratapan yang terkenal, mungkin sekarang merupakan situs suci Yahudi yang berharga. Tembok ini adalah merupakan sisa-sisa Bait Suci kedua yang dibangun berabad-abad setelah tabut itu lenyap. Sebagian penyembah di sini menunggu saatnya penghuni Bukit Bait Suci Dome of the Rock milik Islam hancur. Dan Bait Suci Yahudi ke-3 akan didirikan di tempat tersebut. Inilah salah satu faktor yang menimbulkan perselisihan hebat tanpa henti antara Israel dan Palestina hingga sekarang. Menurut Perjanijian Lama, Tabut itu ditempatkan disana sekitar 955 SM. Tapi, sekitar tahun 620 SM rujukan tentang artifak terpenting dalam agama Yahudi ini berhenti. Lenyap begitu saja dari sejarah. Hanya satu hal saja yang jelas, krisis sebesar bencara internal maupun eksternal yang bisa mengeluarkan Tabut itu dari Bait Suci. Krisis pertama yang sesuai dengan hal ini adalah serangan Fir’aun Mesir bernama Shishak, beberapa puluh tahun setelah Bait itu dibangun. Sekenario Shishak inilah yang mengilhami petualangan Indiana Jones di Mesir dalam film Indiana Jones : Raiders of the Lost Ark.
Ada sesetengah pihak mengatakan bahawa tabut tersebut pernah diangkut ke Yerusalem , ternyata tabut suci tersebut ada di Axum – kota bagian utara dari Etiopiatabut tersebut sudah disimpan disana sejak sekitar 3.000 th yang lampau, sejak kerajaan Salomo (Nabi Allah Sulaiman). Disimpan di dalam satu tempat rahasia, di dalam gua dibawah tanah dari gereja “Zion of Mary”. Gua tersebut dijaga dengan ketat oleh para imam dari keturunan raja Israel.
Tabut tersebut di simpan di dalam ruangan yang di kelilingi oleh tujuh tembok. Hanya ruangan dari tembok pertama sampai dengan ke empat bisa digunakan untuk berdoa oleh para imam disana. Dan untuk ruangan ke lima maupun ke enam hanya boleh dimasuki oleh para tetua imam saja. Sedangkan yg boleh masuk keruangan paling dalam atau ruangan ketujuh dimana tabut tersebut disimpan, hanya seorang imam pilihan saja, yakni yang menjadi penjaga dari tabut suci tersebut.
Imam penjaga tabut, tidak diperkenankan keluar dari gua tersebut, bahkan ia hanya diperbolehkan keluar sampai dengan keruangan ke enam saja, untuk mengambil makanan/minuman yg dibawakan oleh imam tetua lainnya. Ia harus tinggal diruangan tersebut selama hidupnya, bahkan ia harus puasa dan berdoa selama 225 hari dalam setahun.
Apabila ia mati maka ia akan digantikan oleh imam pilihan lainnya. Kebanyakan penjaga di situ dipercayai akan mengalami buta dan menemuai ajal dalam keadaan tubuh mereka terbakar atau keracunan kesan dari radiasi dari tabut tersebut yang dikatakan mengandungi kesan radioaktif yang luar biasa sehinggakan siapa saja yang menyentuhnya juga akan menemui ajal.

SUMBER : https://johneox.wordpress.com/rahsia-tabut-nabi-musa/

copast dari: http://birrusadhu2.blogspot.co.id/2016/03/dibalik-kisah-bencana-di-mekkah-bulan.html?m=1

Wednesday, 12 October 2016

KRI Bima Suci, “Panglima Perang” Baru Para Taruna Angkatan Laut Indonesia.

Ea KRI Bima Suci, “Panglima Perang” Baru Para Taruna Angkatan Laut Indonesia.

13 Agustus 2013 silam di perairan Selat Bali, gulungan ombak setinggi empat meter menderu dan menghantam tanpa rasa. Tak memandang kapal itu telah berada di usia senja. Padahal, pelayaran masih belum apa-apa. Pelabuhan tujuan masih jauh di seberang sana. Perlahan membelah ganasnya samudera, di tengah riuhnya para taruna mengawal perjalanan sang legenda.

KRI Dewa Ruci, hari itu sedang berlayar menuju Pelabuhan Freemantle, Perth, Australia Barat. Dengan segenap kemampuan, awak kapal yang terdiri dari taruna-taruna Angkatan Laut berjuang mengatasi keadaan yang buruk akibat amukan laut hari itu. Lepas dari amukan tinggi gelombang di ujung gerbang wilayah laut nusantara, kapal layar tiang tinggi berusia 60 tahun itu, kembali diuji ketangguhannya. Kali ini, lebih buruk dari sebelumnya. 60 mil laut pantai Shark Bay Australia, Sang Legenda terjebak badai hebat. 140 kadet taruna tak punya pilihan kecuali berdiri dan menantang ganas dan angkernya Samudera Hindia. Mil demi mil dilewati di tengah amukan laut yang membuat kapal sebesar apapun, seperti kotak mainan dihempas kiri dan kanan. Menaiki gelombang, sebelum kembali menghujam di bawah sapuan dewi laut yang menggila. Tak mau menyerah, Dewa Ruci terus meringsek membelah samudera meskipun harus mengirimkan signal darurat yang direspon dengan cepat oleh pihak keamanan laut Australia. Ditawarkan bantuan, Dewa Ruci dengan gagahnya menjawab tidak, pertanda sekali layar terkembang maka pantang untuk kembali. Semboyan Jalesveva Jayamahe yang berarti Di Laut Kita Jaya, hari itu membuktikan tuah saktinya.
Tiba di Australia, cocor di haluan kapal patah. Tak hanya itu, patung Dewa Ruci di haluan tenggelam oleh ganasnya Samudera Hindia dan 'terkubur' di sana. Beberapa tiang KRI Dewa Ruci ikut patah karena dihantam ombak besar.

Itulah kisah heroik terakhir sebelum KRI Dewa Ruci kembali berlabuh di Dermaga Ujung Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya, dua bulan kemudian tepatnya Senin 7 Oktober 2013. Hari itu KRI Dewa Ruci secara resmi mengakhiri semua kegiatan pelayaran manca negara. Selesai sudah darma bakti Dewa Ruci yang telah mengharumkan nama Ibu Pertiwi di seantero jagat.

Kapal berukuran 58,5 meter dan lebar 9,5 meter dari kelas Barquentine yang dibangun di H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman dan merupakan satu-satunya kapal layar tiang tinggi produksi galangan kapal itu pada 1952 yang masih laik layar, tidak akan pernah lagi menyapa lautan dunia.

Sejak pertama diluncurkan pada tanggal 24 Januari 1953, kemudian berlayar menuju Indonesia 9 Juli 1953 dibawah pimpinan Kapten A.F. Hottendorf Roosenow sebelum diserahkan kepada Menteri/Panglima Angkatan Laut Laksamana Madya RE. Martadinata, Dewa Ruci telah menjadi kebanggan Ibu Pertiwi.
Dengan 3 tiang utama yaitu tiang Bima, Yudhistira dan Arjuna yang mengikat kokoh 16 buah layar, KRI Dewa Ruci kini sedang mengarungi lautan purna bakti.

Semua cerita heroik akan tersimpan di benak siapa saja yang pernah bertualang dengan Dewa Ruci. Setiap nukilan kisah tentu tak akan lekang ditelan sang waktu, namun tak urung, sebuah pertanyaan langsung mengapung. Akankah kedigjayaan Dewa Ruci terhenti sampai di sana ?

17 Oktober 2016 –bulan yang sama saat Dewa Ruci kembali, sebuah legenda lain yang akan menjaga kesakralan Jalesveva Jayamahe, siap untuk menyapa samudera.
Bima Suci, demikianlah nama Kapal Republik Indonesia yang akan menggantikan KRI Dewa Ruci.
Di dalam perut sebuah galangan yang dibangun oleh pria Spanyol bernama Paulino Freire tahun 1895, di kota Vigo, KRI Bima Suci dirangkai dan dipersiapkan untuk meneruskan legenda dan kejayaan sarana pelatihan taruna TNI Angkatan Laut.

Kata bhīma dlm bahasa Sanskerta artinya kurang lebih adalah hebat, dahsyat, mengerikan. Nama julukan yang lain adalah Bhīmasena yang berarti panglima perang. Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci.
Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga.

Untuk pertama kalinya semenjak mulai dibangun, KRI Bima Suci akan menampakkan dirinya. Walau Belum sempurna tentunya.

Dari empat tradisi yang melekat pada setiap pembangunan kapal Angkatan Laut yaitu peletakan lunas (keel laying), peluncuran (launching), peresmian kapal (commissioning) dan purnatugas (decommissioning), Bima Suci baru akan memasuki tahapan awal keduanya.
26 buah layar belum lagi terkembang. Indah dan gagahnya Bima Suci –sesuai dengan arti namanya- belum akan terlihat secara sempurna. Namun bukan berarti Bima Suci tak akan kelihatan gagah. Salutan warna putih sudah tersolek indah di sekujur tubuh Sang Legenda.

Tak berapa lama lagi, Bima Suci akan dilengkap dengan tiga tiang utama, lengkap dengan layar yang akan membawanya ke seluruh antero jagad untuk membanggakan Indonesia di mata dunia. Dibanding pendahulunya, Bima Suci memiliki sejumlah keunggulan. 26 lembar layar akan terpasang, sementara Dewa Ruci hanya berhiaskan 16 layar.
Demikian pula dengan fasilitas di dalam kapal. Bima Suci dirancang memiliki kelas tempat para taruna belajar dan berlatih selama Operasi Kartika Jala Krida. Kelas apik nan mewah tersebut, bisa menampung 100 orang taruna. Tak hanya itu, Bima Suci juga memiliki sebuah ballroom bersalutkan nuansa kayu berukuran 11 x 10,5 meter lengkap dengan perangkat multi media.

Keunggulan lain Bima Suci dari “saudara tuanya” adalah kamar-kamar modern untuk 203 personel yang mengawal “Sang Panglima Perang” kemanapun ia berlayar. Sementara dari dapur pacu, Bima Suci bisa melaju membelah samudera dengan kecepatan 12 knot jika menggunakan mesin. Sedangkan jika ingin “bersantai” dengan layar-layar terkembang gagah, kapal ini bisa melaju lebih cepat yaitu 15 knot. Bima Suci juga sanggup berlayar 30 hari tanpa mengisi bahan bakar.

Dengan 5 buah dek, 7 kompartemen dan 48 blok, KRI Bima Suci siap untuk meneruskan tradisi kejayaan kapal latih tiang tinggi Angkatan Laut Indonesia.
Tak banyak orang yang akan menyaksikan momen dimana Bima Suci “turun ke laut” tanggal 17 Oktober 2016 nanti. Beberapa pejabat tinggi negara termasuk dari TNI AL, pejabat dari galangan Freire serta beberapa individu dari Indonesia akan mendapat kehormatan menyaksikan momen membanggakan tersebut.
Bima Suci akan mejadi “panglima perang” yang baru bagi para taruna Angkatan Laut yang akan berlayar bersamanya. Sejatinya, teruna-teruna muda Indonesia tersebut, pada akhirnya akan mewarisi semua sifat Bima Suci. yaitu gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta rendah hati.

Bima Suci segera menyapa samudera Dunia, demi kebanggaan Ibu Pertiwi nan mulia. Arungi dunia membawa segumpal asa, tak lain hanya untuk Indonesia. Sapuan gelombang jangan surutkan jiwa, bertarunglah wahai teruna muda. Hempasan angin urung patahkan raga, berdirilah di atas layar nan membahana.

Ah… Seandainya aku ada di sana…..

# JALESVEVA JAYA MAHE

Saturday, 8 October 2016

Panglima TNI Berkeluh, Militer Kita Frustrasi ?

CATATAN TENGAH, Rabu 5 Oktober 2016

Panglima TNI Berkeluh, Militer Kita Frustrasi ?

JAKARTA - Sepanjang sejarah pemerintahan RI, boleh jadi baru kali ini seorang Panglima TNI berkeluh kesah. Sebuah keluh-kesah yang bisa ditafsirkan positif tapi bisa juga negatif. 

Kelu- kesahnya Panglima TNI terletak pada  tidak pernah adanya pasokan info dari kalangan intelejens, tentang apa yang menjadi ancaman bagi Indonesia.

"Sejak saya Kolonel...", kata Gatot Nurmantyo, Jenderal bintang empat dengan menekankan , bahwa keringnya pasokan info itu sudah berlangsung lama.

Pernyataan itu disampaikan Panglima TNI dalam wawancaranya dengan majalah "Forum", bertepatan dengan  tibanya HUT TNI hari ini.

Dengan merujuk pada pangkatnya dulu yang empat tingkat di bawah pangkatnya sekarang, hal ini menandakan, ketiadaan pasokan informasi penting itu sudah cukup lama dia pandang sebagai sesuatu serius. 

Mungkin  hal itu terjadi  sejak era  pemerintahan SBY(2004 -2014)  atau bahkan sewaktu masih di era kepresidenan Megawati Soekarnoputri ( 2001 - 2004)

Kalau demikian keadaannya,  sangat gampang mencari sebab musababnya. Tinggal kita tanya saja kepada para Jenderal yang pernah memimpin BIN (Badan Intelejens Negara).   Seperti Hendropryono (era Megawati) atau Sjamsir Siregar, Sutanto (eks Kapolri) dan Marchiano Norman, semuanya di era SBY.

Tapi yang lebih mendasar dari keluhan itu,  TNI dengan posisinya sekarang semestinya memerlukan perhatian. Diperlukan evaluasi. Sudah tepatkah pemposisian TNI seperti sekarang ?  Karena keluhan ini menunjukan, diam-diam TNI sedang galau, tengah frustrasi  atau mungkin merasa sedang berada di persimpangan jalan.

Yah, keluhan Orang Nomor Satu di Institusi Militer  ini cukup menarik. Sebab Jenderal Gatot  Gatot Nurmantyo sendiri sebelumnya sudah  berkali-kali menyampaikan penilaannya tentang situasi yang dihadapi Indonesia. Dimana dia seakan mengkhawatirkan bakal terjadi sesuatu bila para pemangku kepentingan tidak sadar dengan ancaman baru.

Dunia saat ini menurut Jenderal Gatot menghadapi ancaman baru  berbentu proxy war, peperangan yang tidak menggunakan senjata.  Dan nmapknya Indonesia tidak sadar atau siap. Dengan kata lain, Indonesia bisa dihancurkan oleh pihak tertentu  melalui sistem. Dan sistem itu tidak kelihatan. Sementara si penghancur tidak harus berada dari luar. Bisa saja berada dari dalam.

Kalau meminjam pandangan Mayjen (Purn) AA Nasution, mantan Dirut Telkom, kegiatan penyelundupan narkoba bisa merupakan bagian dari proxy war.

Terjadinya polarisasi di dalam kabinet, bisa juga merupakan bagian dari pengaruh proxy war.

Terkurasnya enerji mengurus para imigran gelap yang ingin menyeberang ke Australia,  juga bisa menjadi bagian dari proxy war.

Jenderal Gatot juga melancarkan kritik terhadap sejumlah politisi maupun partai politik. Karena mereka-mereka  ini menurut dia yang ikut meciptakan krisis.  Khususnya pernyataan para politisi yang hanya memperkeruh suasana.

Walaupun tidak menyebut nama politisi berikut partai politiknya, tetapi kritikan Panglima TNI seakan dipahami oleh semua kalangan. Dan mereka yang paham, ironisnya tidak berkata sepatah katapun. Seolah tidak mendengar adanya peringatan seorang jenderal.

Adanya peringatan jenderal Gatot Nurmantyo  menandakan, sekalipun TNI tidak lagi berpolitik, tetapi intuisi politik dan kemampuannya menganalisa situasi politik, masih tajam dan tetap jalan.

Memang tak bisa dipungkiri, peranan TNI maupun respektasi masyarakat, mengalami degradasi yang cukup signifikan. 
Terutama sejak terjadinya perubahan pemerintahan di tahun 1998.

Tak lama setelah perubahan rezim, TNI tidak boleh lagi berpolitik. Di parlemen tidak ada lagi Fraksi TNI (ABRI).  Semua keistimewaan yang melekat di tubuh institusi TNI berikut personalianya, seakan semuanya dihapus.

Dulu  di era pemerintahan Orde Barru rezim pimpinan Jenderal Soeharto, TNI  selain berperan sebagai garda keamanan, secara de facto, TNI atau ABRI   juga berperan seperti sebuah partai atau kekuatan politik.  Ada istilah yang paling populer pada waktu itu yakni Dwi-fungsi ABRI.

Kini segala peran TNI secara tidak disengaja, diambil alih. Dwi-fungsi ABARI dihapus. Peran-peran itu seperti diambil alih  oleh kepolisian.  Polri berada di atas angin ketimbang TNI.

Contoh yang paling nyata, status seorang Panglima TNI. Sekalipun membawahi tiga kepala staf Angkatan Darat, Angkat Laut dan Angkatan Udara, tetapi dia tidak punya akses langsung ke Presiden. Untuk melapor ke Presiden, seorang Panglima TNI harus melalui Menteri Pertahanan. 

Beda dengan di zaman Soeharto, seorang Panglima TNI atau ABRI setara dengan Jaksa Agung dan Gubernur Bank Indonesia.  Mereka bertiga setingkat dengan Menteri. Protokol pelantikan merekapun disamakan dengan pelantikan Menteri.

Setelah perubahan , pada satu masa, Menteri Pertahanan yang menjadi atasan oleh Panglima TNI, bukanlah seorang yang berpangkat jenderal seperti di era Presiden Soeharto. Melainkan dari kalangan sipil. Diakui atau tidak, diam-diam ada terjadi kekurang cocokan, seorang Menteri Pertahanan dari sipil dengan Panglima TNI yang seorang militer karir.

Apalagi kalau Menteri Pertahanan dari sipil itu diangkat berdasarkan kriteria "political appointee".

Sejak Jenderal Soeharto tidak berkuasa, sudah 4 kali  posisi Menteri Pertahanan dijabat warga sipil. Mereka  masing-masing Mahfud MD, Matori Abdul Djalil (almarhum), Juwono Sudarsono dan Purnomo Yusgiantoro.

Sementara  seorang Kapolri yang tidak membawahi  matra-matra seperti di TNI, justru punya akses langsung ke presiden.

Peran dan kedudukan Polri saat ini  dirasakan sangat besar. Bahkan  jabatan Kepala BIN yang saat ini untuk kedua kalinya dipercayakan kepada jenderal polisi, ikut dirasakan sebagai sebuah hal yang tidak memperhitungkan keunggulan militer di dunia intelejens.

Padahal selama lebih dari 30 tahun posisi Kepala BIN atau BAKIN (sebelumnya) selalu berada di tangan militer atau TNI.

Lantas bagaimana memaknai keluhan  Panglima TNI Gatot Nurmantyo tersebut ?

Seharusnya pemerintah, presiden dan seluruh pemangku kepentingan jangan menjadikan keluhan Panglima TNI itu hanya sebagai "angin lalu" saja.

Sudah pada tempatnya sorotan Panglima TNI itu direspon dengan sebuah tindakan yang konkrit.  Apa dan bagaimana tindakan konkrit yang diperlukan itu, tentu TNI sendiri pasti tahu.

Kalau sejumlah kewenangannya sudah terlanjur diambil oleh Polri misalnya, segeralah  kembalikan hal tersebut. Bagilah beban kerja dan tanggung jawab itu.  Jangan juga Polri seperti merasa, karena UU yang ada menempatkan posisi mereka kuat seperti sekarang, lalu Polri berlindung di balik legalitas itu. Cepat atau lambat kecemburuan akan terjadi. Indikasi soal kecemburuan itu sudah beberapa kali meledak. Seperti perkelahian antara anggota Polri dan satuan TNI.

Sebaliknya  walaupun perang modern, tidak lagi menggunakan senjata, tetapi tidak berarti peran TNI yang punya senjata, lantas disederhanakan.

Sebab asumsi itu sebetulnya masih bersifat sementara. 
Lihat saja peperangan yang terjadi di Timur Tengah. Baik yang terjadi di Syria, khususnya dalam perebutan pengaruh di kota Aleppo ataupun dalam rangka menghadapi ISIS.

Perang dengan senjata tetap nasih ada.

Di sisi lain, sampai kapanpun, Indonesia tetap memerlukan TNI yang kuat. Bukan TNI yang "macan kertas". Khususnya menghadapi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di Papua atau di daerah konflik lain yang berpotensi memecah persatuan dan kesatuan bangsa.

Semoga respons terhadap keluhan Panglima TNII, belum terlambat.
Dirgahayu HUT TNI 5 Oktober 2016.