Tahun 2013, Syaikh Abdullah bin Bayyah mendirikan Majlis Hukama al-Muslimin, satu organisasi internasional yang berikhtiar mempromosikan pesan-pesan perdamaian lintas umat.
Tiap tahun, forum ini menggelar pertemuan antarulama dan tokoh muslim dari seluruh penjuru dunia dalam wadah
‘Forum for Promoting Peace in Muslim Societies’.
Misinya sederhana namun serius; mendakwahkan bahwa Islam adalah betul-betul agama kedamaian dan keadilan. Beliau sangat menyayangkan realita bahwa kita lebih banyak membaca tentang perang dalam sejarah peradaban umat Islam, namun sedikit sekali membaca tentang upaya-upaya perdamaian lintas etnis dan agama.
Sosok sepuh kelahiran India ini sudah lebih dari setengah abad menggemakan perdamaian. Beliau mendalami ilmu-ilmu agama melalui pesantren-pesantren tradisional sekaligus mempelajari ilmu-ilmu umum. Dari pengalaman belajarnya ini, beliau bertekad untuk menyampaikan hakekat Islam dengan bahasa kekinian, bahasa sains dan humaniora modern.
Salah satu upayanya dalam hal ini adalah menerjemahkan dan menafsirkan Al-Quran dalam bahasa Urdu, Inggris, dan Hindi, dengan pendekatan saintifik.
Sejak 1967, Maulana Wahiduddin Khan sudah aktif berkeliling menyampaikan ceramah, menghadiri forum-forum, dan menulis dalam tema kerukunan dan perdamaian. Baik dalam lingkup sesama muslim maupun lintas iman. Kita tahu bahwa India mengalami banyak sekali konflik horizontal yang parah. Pada 1992 terjadi insiden masjid Babri, yakni ketika 150.000 umat Hindu ekstrim menghancurkan masjid bersejarah umat Islam dengan suka cita. Tentu saja insiden ini kemudian menimbulkan ketegangan antaragama di seluruh India. Sebagai tokoh agama Islam, Maulana Wahiduddin tidak mengajak angkat senjata untuk balas dendam, beliau justru menyelenggarakan pawai perdamaian besar-besaran selama 15 hari berturut-turut melewati 35 tempat berbeda. Dan ketegangan pun mereda. Mulai ’90-an inilah peran beliau mulai nampak sebagai duta spiritualitas dan perdamaian.
Untuk menyebarkan pesan-pesan kedamaian Islam universal ini, Maulana Wahiduddin Khan mendirikan Center for Peace and Spirituality, satu yayasan yang mendakwahkan kedamaian dan spiritualitas, tasawuf. Ia kerap berkunjung ke berbagai wilayah dan bertemu berbagai tokoh lintas iman untuk berdialog, bukan berdebat. Pada 2015 lalu, di Abu Dhabi, beliau mendapat penghargaan dari Majlis Hukama al-Muslimin pimpinan Syaikh Abdullah bin Bayyah atas kerja kerasnya mengkampanyekan perdamaian sepanjang hidupnya.
Beberapa tahun terakhir, Habib Luthfi nampak sangat gencar mengampanyekan semangat cinta tanah air dan persatuan kebangsaan (wathaniyyah). Beliau berceramah dari majlis ke majlis, besar maupun kecil, mendakwahkan semangat persatuan dan memahamkan bahwa nasionalisme sama sekali tidak bertentangan dengan Islam. Beliau merangkul pemerintah bersama-sama rakyat untuk berupaya keras mencegah perpecahan.
Para ulama yang sebagian besar berasal dari negara-negara konflik dan bekas konflik ini sangat berharap agar Indonesia bisa menjadi ‘sesepuh’ dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang masih bertikai dan saling menumpahkan darah.
Sosok-sosok sepuh ini seperti tak punya lelah. Kesana-kemari berkeliling dari satu daerah ke daerah lain bukan untuk mengembangkan bisnis, bukan untuk memperbanyak pengikut, bukan untuk keperluan profan materi, melainkan untuk merajut kedamaian.
Mereka menjahit luka-luka yang menganga, menjaganya agar tak tercabik lagi, merawat luka-luka perpecahan agar sembu dan jangan diungkit-ungkit lagi.
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, Maka kelak kami memberinya pahala yang besar.” (An-Nisa: 114)
Konflik dan perpecahan, perang dan permusuhan, semua itu memang sudah menjadi fitrah kemanusiaan.
Sejak Qabil menumpahkan darah Habil di muka bumi ini, kisah perang saudara seakan menjadi kutukan bagi kemanusiaan sejak dahulu hingga akhir zaman. Namun semua itu tidak menjadi alasan bagi kita untuk membiarkannya, apalagi menjadi bagian penyulut api konflik di dalamnya.
Sosok-sosok seperti Syaikh Abdullah bin Bayyah, Maulana Wahiduddin Khan, dan Habib Luthfi bin Yahya, bukanlah orang-orang polos yang tidak tahu menahu tentang adanya musuh. Mereka bukan anak kecil yang tak paham strategi konspiratif. Mereka bukan bocah kemarin sore yang tak mengerti adanya perangkap dan jerat kapitalisme di luar sana. Mereka betul-betul paham bahwa penjajahan modern yang mencengkeram umat Islam saat ini tidak seperti penjajahn di masa lalu.
Padahal kalau kita telaah, ada banyak sekali aksi rekonsiliasi yang telah Rasulullah teladankan. Mulai dari merukunkan antarindividu, merukunkan antarpasangan dalam rumah tangga, merukunkan antara orang yang berselisih sebab harta benda, hingga merukunkan antarsuku yang berseteru dan saling bantai.
Begitulah. Catatan sejarah yang kita baca lebih dominan diisi kisah-kisah konflik. Sangat sedikit ruang yang menceritakan rekonsiliasi dan ide-ide konstruktif. Bagaimana Rasulullah membimbing masyarakat Madinah bertani, berniaga, dan beternak. Bagaimana penguasa di Abad Pertengahan membangun masyarakat dan apa saja yang dilakukan. Kita asing dengan informasi-informasi semacam itu.
Tentu kita tak mau upaya sosok-sosok sepuh di atas, yang bertahun-tahun membangun kerukunan, kita runtuhkan tanpa kesadaran jangka panjang tentang apa yang akan menimpa kita dan anak cucu kita. Karena perdamaian bukan sesuatu yang bisa terwujud seketika. Butuh sewindu untuk merajut perdamaian, namun cukup sekejap untuk mencabik-cabiknya.
_________
Zia Ul Haq
Krapyak, Sabtu Legi 17 Mulud 1438, Kado Ultah.
