Thursday, 15 September 2016

Masyarakat Posmodernisme

Masyarakat Posmodernisme, sebenarnya merupakan kesinambungan dari tahapan mutakhir dari kapitalisme. Jadi semacam kapitalisme gelombang ketiga begitu deh. Dalam masyarakat kapitalisme pasar, budaya yang mendominasi adalah realisme.Kapitalisme monopoli, muncullah budaya modernisme. Sedangkan kapitalisme berbasis korporasi multinasional seperti sekarang ini, muncullah budaya posmodernisme.Dominasi budaya posmodernisme ini ditandai dengan kuatnya pengaruh citra yang dibentuk melalui media, sehingga antara kenyataan dan citra campur-aduk nggak karuan. Sehingga masyarakat kita digiring jadi konsumen budaya yang bersifat pasif. Bukannya didorong jadi kekuatan kebudayaan, atau insan budaya yang penuh kreasi/daya cipta dan imajinasi.Budaya Posmodernisme macam inilah yang kemudian menghasilkan bentuk-bentuk kesadaran baru yang beranggapan bahwa menyaksikan atau menonton itu lebih penting daripada berkarya dan berkiprah dalam kehidupan masyarakat. Lebih senang merayakan sebuah ironi dan menikmati sebuah pajangan atau etalase. Ketimbang secara langsung bersentuhan dengan kehidupan nyata masyarakat.Singkat cerita, seluruh pandangan masyarakat Post Modernisme dituntun oleh beragam citra yang kita bawa dalam kesadaran kita baik secara pribadi maupun secara kolektif/bersama.Ketika kita berhasil menggali dan menembus ke inti permasalahan yang ada di bawah permukaan budaya Posmdernisme ini, maka semua kaum Postmodernisme ini sesungguhnya hanyalah para pelakon seni pertunjukkan. Sekadar merayakan kedangkalan. Merayakan ironi, dan menikmati etalase atau pajangan.Dalam situasi masyarakat yang dikuasai oleh budaya Postmodernisme, maka masyarakat kita tak bisa memisahkan antara citra dan kenyataan. Sehingga muncullah yang namanya Krisis Representasi. Karena kita tidak mengenali identitas dan jatidiri sesungguhnya. Kita tidak kenali diri, tidak tahu diri, dan tidak tahu harga diri. Karena begitu kuatnya pengaruh media dalam menanamkan kesadaran bahwa citra itulah kenyataan itu sendiri. Bahkan simulasi atau reality show seperti yang kita tonton di berbagai tv, terkesan lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.Situasi semacam ini jika kita ingin mengubahnya, maka maka yang harus kita tempuh adalah merebut kembali masyarakat kita, yang mana seiring dengan itu, merebut kembali identitas dan kehidupan kita.Yang harus kita cari adalah adalah sebuah upaya perlawanan secara budaya, sebuah upaya untuk berhubungan dengan masa lalu/sejarah, namun masa lalu atau sejarah itu tidak boleh memperbudak kita, atau menyeret kita ke masa lalu. Justru sebaliknya bagaimana masa lalu kita hadirkan di masa kini, untuk mengilhami munculnya gagasan-gagasan baru, dan solusi-solusi baru, untuk melawan Budaya Postmodernisme yang sejatinya merupakan buah dari kapitalisme gelombang ketiga.Ujung dari Budaya Postmodernisme itu, menyiratkan adanya tema tersembunyi bahwa yang menjalari gaya dan bentuk-bentuk budaya postmodernisme adalah adanya dominasi ideologis oleh kelas-kelas yang berkuasa.

SEKARANG PILIHAN ADA DI TANGAN KITA, CUKUP HANYA BERWACANA DAN BERETORIKA DI DUNIA MAYA ATAU LANGSUNG TERJUN DI TENGAH-TENGAH MASYARAKAT???

Credit for Bang Hendrajit

Kita Telah Berkhianat Pada Leluhur

Kita Telah Berkhianat Pada Leluhur

Penghancuran  secara  sistimatis sedang berlangsung di negeri  ini.
Bangsa Indonesia merupakan kesatuan  bangsa2  yang ada di Nusantara, yang dipersatukan oleh ikatan nilai2 kebenaran  yang telah ada dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari oleh bangsa2 yang ada  di Nusantara. Kebesaran jiwa dan keluhuran budi yang ditunjukkan para  Raja dan Sultan se-Nusantara dengan  keputusan mempersatukan wilayah kekuasaan, merupakan wujud keinginan  kuat untuk mengangkat harkat dan  martabat rakyat Nusantara dari bangsa2 yang tertindas menjadi bangsa yang merdeka dan  berdaulat.
Keputusan yang sangat bijak dan bernilai strategis, pada akhirnya membuahkan hasil dengan diproklamirkan kemerdekaan bangsa  Indonesia pada tgl. 17 Agustus  1945, dan diikuti dengan dikeluarkan UUD 1945 pada tgl. 18 Agustus 1945, maka secara resmi bangsa Indonesia telah mempunyai wadah yaitu Negara.

Seperti yang disampaikan pada tulisan  yang terdahulu, bahwa Indonesia adalah negara  yang dibentuk bangsanya lebih dahulu baru negaranya. Maka untuk menghancurkan NKRI yang dihancurkan  adalah ikatan yang mempersatukan bangsa2 itu sendiri, yaitu Pancasila.

Peristiwa di Sulawesi Selatan adalah wujud penghancuran  nilai2 kebenaran atas dasar kebenaran etika dan budaya bangsa, dihancurkannya oleh anak bangsanya sendiri,  kekuasaan yang diperoleh dari rakyat telah diselewengkan digunakan untuk menindas dan menghancurkan nilai2 yang ditinggalkan oleh  para leluhurnya sendiri. Itu bukan karakter seorang PEMIMPIN tetapi karakter PENGUASA. Pemimpin itu PELAYAN/PENGABDI (HR. Abu Naim).

Raja/Sultan adalah TRAH, keturunan biologis dan ideologis dan melalui seleksi secara garis  besar  4 tahapan.
Tahap I adalah Pengakuan bahwa ybs adalah putra Raja/Sultan dari permaisuri.
Tahap II adalah Penetapan putra  Raja/Sultan  yang mana akan dijadikan Putra  Mahkota
Tahap III adalah Pelantikan terhadap Putra Mahkota dijadikan Pangeran Adipati/Pangeran apa sebagai calon pengganti resmi.
Tahap IV adalah  Penobatan setelah yang bersangkutan  menjalani proses tradisi sebelum naik tahta.

Para Raja/Sultan mempunyai tanggung jawab berat baik secara moril/materiil, menjaga nilai2 tradisi dan budaya  luhur yang ditinggalkan para leluhurnya.
Nilai2 kebenaran yang menjadi asas, sifat dan  jatidiri bangsa yaitu Pancasila, secara pelahan dan pasti  sedang dalam proses  penghancuran yang  dilakukan menggunakan tangan2 anak bangsanya sendiri, dilakukan secara sistematis dengan tujuan akhir agar bangsa ini tidak mengenal jatidirinya, agar bangsa ini  mudah dikuasai dan dikendalikan.

Dalam notulen Pringgodigdo, disepakati bahwa negara  yang akan dibentuk adalah negara kekeluargaan, sehingga UUD 1945 pada setiap pasalnya terkandung  jiwa kekeluargaan.
Sudah waktunya kita sadar  diri, Indonesia carut marut ini karena Indonesia terlalu cantik bagi dunia.
Penghancuran nilai2 sudah menyentuh semua sila2  Pancasila dan  apabila kita  tidak mau segera menyadari, maka kita sedang  menunggu kehancuran dan KITA TELAH BERKHIANAT KEPADA PARA LELUHUR KITA yang telah merelakan jiwa raga dan hartanya untuk kemerdekaan bangsa dan negara ini.

Ingin selamat? Hanya satu jawabnya Pancasila berdaulat, bangsa Selamat.

Slamet Soebijanto