Saturday, 10 March 2018

CHINA AKAN JADIKAN INDONESIA SEBAGAI AFRIKA KE-2 ?? SELAMAT DATANG DI PERANG ASIMETRIS.

CHINA AKAN JADIKAN INDONESIA SEBAGAI AFRIKA KE-2 ?? SELAMAT DATANG DI PERANG ASIMETRIS.

Sebagai info dan renungan bangsa Indonesia,

Perang Asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara non militer, tetapi memiliki daya hancur tidak kalah hebat bahkan dampaknya lebih dahsyat dari perang militer.

Sasaran Perang Asimetris ini ada tiga:

1. Membelokkan sistem sebuah negara sesuai arah kepentingan kolonialisme/kapitalisme.--> Kudeta Konstitusi, Amandemen UUD 1945 sebanyak 4x menjadi UUD 2002.

2. Melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyat. --> Ideologi Kerakyatan secara perlahan tapi pasti dibawah sadar masyarakat dirubah menjadi Ideologi Liberal (Neolib).

3. Menghancurkan 'food security' (ketahanan pangan) dan 'energy security' (jaminan pasokan dan ketahanan energi) sebuah bangsa, selanjutnya menciptakan ketergantungan negara target terhadap negara lain dalam hal 'food and energy security'. --> Dari jaman pemerintahannya SBY, kita sudah menjadi negara Net Impoted untuk Oil and Gas (Energi), Dijaman JKW kita menjadi negara Import Bahan Pokok yg masive.

Lalu pertanyaannya, Masihkan NKRI ini berdaulat ?

Bentuk "Perang Asimetris" diantaranya melalui "mengubah kebijakan negara sasaran" dengan ciri non kekerasan.

Pertanyaannya kini, “Bagaimana modus Perang Asimetris yang sering dilakukan oleh Cina?”

Sejak reformasinya, Cina mengalami masa transformasi dan konvergensi ke arah kapitalisme yang melahirkan 'One Country and Two System', yakni sistem negara dengan elaborasi ideologi sosialis/komunis dan kapitalis. Dengan kata lain, model perekonomian boleh saja bebas sebagaimana kapitalisme berpola mengurai pasar, namun secara politis tetap dalam kontrol negara cq. Partai Komunis Cina (PKC).

Artinya, para pengusaha boleh didepan membuka ladang-ladang usaha diluar negeri, tetapi ada 'back up' militer (negara) dibelakangnya. Itulah titik poin konsepsi 'One Country and Two System' yang kini tengah dijalankan oleh Cina di berbagai belahan dunia.

Ciri lain Cina dalam menerapkan reformasi politiknya, jika kedalam gunakan "pendekatan Naga" terhadap rakyatnya, sangat keras, tegas, bahkan tanpa kompromi demi stabilitas internal negeri. Sebaliknya ketika Cina melangkahkan kaki keluar, tata cara diubah menerapkan "pendekatan Panda" (simpatik), dalam bentuk :
Menebar investasi atau “bantuan dan hibah” dalam wujud pembangunan gedung-gedung, infrastruktur dan lainnya, sudah barang tentu dengan persyaratan “tersirat” -nya yang mengikat. Pendekatan Panda merupakan ruh atau jiwa pada model "perang asimetris" yang sering dikerjakan oleh Cina.

'Turnkey Project Management' (TPM), adalah sebuah model "investasi asing" yang ditawarkan dan disyaratkan oleh Cina kepada negara peminta dengan “sistem satu paket,” artinya :
Mulai dari 'top management', pendanaan, materiil dan mesin, tenaga ahli, bahkan metode dan tenaga (kuli) kasarnya di 'dropping' dari Cina.

Modus Turnkey Project ini relatif sukses dijalankan di Afrika sehingga warganya migrasi besar-besaran bahkan tak sedikit yang menikah dengan penduduk lokal. Mereka menganggap Afrika kini sebagai tanah airnya kedua.

Beberapa investasi Cina di Indonesia, sebenarnya telah menerapkan modus ini. Memang bukan barang baru, karena sejak dulu sudah berjalan antara lain :

Pembangunan pembangkit tenaga listrik di Purwakarta, hampir semua tenaga kerja mulai dari direksi hingga kuli bangunan didatangkan dari negeri Cina.

Bila dikaitkan dengan pemahaman "Perang Asimetris" dan kebijakan "One County and Two System" nya, maka "Turnkey Projek Manajement", pada hakekatnya merupakan "Perang Asimetris" sebagai strategi Cina untuk menguasai Indonesia secara non militer.

Pertanyaan sederhana :

Apakah Pemerintah tidak mengetahui Skenario ini sebagai Ancaman Negara atau justru merupakan bagian dari Skenario ini?

Jawabannya adalah :

'Let them think, let them decide' (biarlah rakyat berfikir dan biarkan rakyat memutuskan) dalam menilainya sebagai "pemilik kedaulatan" dan "pemberi "mandat".

Copas: Cut Meutia Adrina

Friday, 9 March 2018

Kisah Menegangkan Ketika 80 Anggota Paskhas TNI AU Siap Tempur Lawan Ribuan Pasukan Khusus Australia

    -Ketika provinsi Timor-Timur (sekarang Timor Leste) akhirnya lepas dari Indonesia pada September 1999 melalui jajak pendapat, ketegangan segera berkecamuk.

Warga Timor-Timur yang memilih untuk tetap bergabung dengan NKRI berbondong-bondong meninggalkan Tim-Tim.

Mereka pergi dengan tergesa-gesa dan dibayang-bayangi konflik bersenjata yang bisa meletus sewaktu-waktu.

Pascareferendum, satuan-satuan pasukan RI yang semula bermarkas di Tim-Tim juga bergegas meninggalkan negara baru itu sambil membawa perlengkapan tempur.

Mereka bergerak keluar Tim-Tim dalan konvoi serta formasi militer siap tempur.

Tapi ketegangan justru makin memuncak sewaktu pasukan multinasional The Internal Force of East Timor (INTERFET) yang dipimpin pasukan khusus Australia mulai mendarat demi melancarkan operasi stabilitas keamanan di sana.

Pasukan INTERFET mendarat pertama kali menggunakan pesawat C-130 Hercules milik Angkatan Udara Australia pada 20 September 1999. Hal ini membuat suasana pagi kota Dilli yang semula tenang langsung berubah tegang.

Pasalnya ratusan pasukan INTERFET yang keluar dari perut pesawat alih-alih berbaris rapi, lalu melaksanakan upacara dan briefing dan berkoordinasi dengan pasukan TNI (Paskhas) yang sedang mengamankan Bandara Komoro, mereka langsung stelling (siap tempur).

Sambil diiringi oleh sirine yang meraung-raung, semua personel pasukan INTERFET keluar dari pesawat dalam kondisi siap menembaki dan berlarian ke berbagai arah untuk membentuk perimeter (pertahanan) pengamanan Bandara Komoro.

Siap Tempur di Bandara Komoro

Sepak terjang pasukan INTERFET yang siap tempur dalam kondisi senjata terkokang dan siap menembak itu jelas membuat para prajurit Paskhas yang sedang bertugas mengoperasikan dan mengendalikan bandara jengah.

Sebagai pasukan komando terlatih dan memiliki kemampuan khusus mengoperasikan bandara mereka memang ditugaskan mengamankan bandara setelah para operator sipil Bandara Komoro dievakuasi ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus menjadi pasukan paling terakhir yang meninggalkan Dili.

Untuk mengantisipasi kondisi terburuk, para pasukan Paskhas yang berjumlah sekitar 80 orang dan masing-masing menyandang senjata di pundak itu diam-diam juga telah menyiapkan diri bertempur sampai titik darah terakhir melawan pasukan INTERFET.

Apalagi pasukan Gurkha yang merupakan pasukan elite Inggris dan memiliki sejumlah kemampuan komando seperti Paskhas juga mulai diturunkan dan dalam kondisi siap tempur.

Pasukan INTERFET, khususnya Australia, sebenarnya sedang bingung karena dalam briefing untuk pendaratan di Dili mereka mendapat informasi intelijen jika kota Dili dalam situasi perang dan dikendalikan oleh para milisi bersenjata.

Sejumlah milisi bersenjata memang ada di Tim-Tim tapi tidak sampai menguasai Bandara Komoro yang masih dikendalikan oleh pasukan Paskhas.

Tapi sewaktu mendarat di Bandara Komoro, pasukan INTERFET yang mendapatkan tugas utama menguasai bandara, bukannya langsung menghadapi pertempuran.

Mereka justru menghadapi pasukan Paskhas berseragam resmi sebagai tentara reguler, bersenjata lengkap, dan secara profesional mampu mengendalikan lalu-lintas Bandara Komoro.

Pasukan ITERFET sebenarnya juga mendapatkan tugas untuk melucuti semua personel yang bersenjata di Tim-Tim dan menembak mati bagi mereka yang melawan.

Namun, ketika menyadari jika pasukan Paskhas adalah pasukan resmi, mereka membatalkan diri untuk melucuti senjata mengingat pasukan Paskhas juga dalam posisi siap melaksanakan pertempuran.

Kemampuan pasukan Paskhas bisa mengendalikan operasi Bandara Komoro dengan profesional secara diam-diam justru membuat pasukan Australia merasa segan.

Di kalangan pasukan negara-negara Persemakmuran Inggris, mereka memang memiliki pasukan terlatih yang bisa mengoperasikan bandara atau pangkalan udara, yakni pasukan khusus SAS (Special Air Service).

Rupanya kualifikasi pasukan Paskhas yang setingkat SAS itulah yang membuat pasukan Australia makin segan.

Namun begitu, pasukan INTERFET tetap selalu dalam posisi siap tempur dan bersikap beringas terhadap setiap personel bersenjata.

Saling Todongkan Senjata

Ketegangan kembali terjadi ketika Pangkoopsau II, Marsda TNI Ian Santosa, yang tiba dengan pesawat C-130 Hercules di Bandara Komoro untuk berkoordinasi dengan pejabat tertinggi pasukan INTERFET, Mayjen Peter Cosgrove, turun dari pesawat disertai sejumlah pasukan Paskhas bersenjata lengkap.

Rombongan Pangkoopsau tiba-tiba dihadang sejumlah pasukan INTERFET dalam posisi senjata ditodongkan dan siap tembak.

Melihat reaksi tak bersahabat itu, pasukan Paskhas pengawal Pangkoospau pun bereaksi dengan cara menodongkan senjata dan siap baku tembak dalam jarak dekat.

Granat tangan bahkan sudah diraih sehingga kalau baku tembak dalam jarak dekat itu terjadi, pasukan Paskhas yang jumlahnya lebih sedikit bisa menimbukan korban sebanyak mungkin.

Dalam situasi seperti itu, kehormatan untuk menjaga kewibawaan Pangkoopsau dan bangsa serta negara memang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Meskipun dalam pertempuran yang tidak seimbang dan di tempat terbuka itu bisa dipastikan pasukan Paskhas akan gugur semua.

Apalagi jumlah pasukan INTERFET yang siap tempur di kawasan Bandara Komoro telah mencapai ribuan.

Namun, situasi kembali kondusif setelah petinggi militer INTERFET tiba untuk menyambut Pangkoopsau II.

Pasukan Terakhir di Dili

Ketika Pangkoopsau II kembali terbang meninggalkan Dili, seluruh pasukan Paskhas yang tertinggal kembali bertugas untuk mengendalikan bandara sambil menunggu serah terima kekuasaan dan sekaligus menjadi pasukan yang meninggalkan diri paling terakhir.

Dalam penerbangannya menuju Kupang, Pangkoopsau II sadar, jika sampai terjadi chaos, pasukan Paskhas yang tersisa pasti akan mengalami situasi sangat sulit.

Namun, ia berjanji untuk mengerahkan semua kekuatan Koopsau II, demi menyelamatkan seluruh pasukan Paskhas.

Beruntung, situasi Dili tetap terkendali dan pasukan Paskhas pun bisa pulang ke dengan selamat

Teknik Meloloskan Diri

Sebenarnya, jika harus menghadapi pertempuran sampai titik darah penghabisan di Bandara Komoro, pasukan Paskhas sebenarnya sudah siap.
Mereka bahkan telah menyiapkan prosedur tempur pelolosan diri sambil melawan dengan cara memilih 10 personel yang paling militan.

Ketika induk pasukan Paskhas sedang bertempur melawan pasukan INTERFET, kesepuluh personel itu akan meloloskan diri dengan cara berlari long march menempuh jarak ratusan km sambil bertempur menuju ke perbatasan di bawah ancaman musuh.

Teknik pelolosan diri sambil bertempur itu sudah dikuasai para prajurit Phaskas dan dikenal sebagai SERE (Survival Evation Resistance Escape).
Tujuannya adalah menyampaikan salam komando kepada Dankorpspaskhas dan seluruh jajaran serta petinggi TNI.

Namun demikian karena harus melewati rintangan tempur, diperkirakan kesepuluh pasukan komando berani mati itu tidak akan semuanya berhasil menembus perbatasan.

Bravo Paskhas!

Sumber: BangkaPos.com

Tuesday, 13 February 2018

Walaupun berita lama tapi menarik untuk d cermati: Top Secret: Apa yang Hendak Moskow dan Jakarta Sembunyikan dari CIA....?

MEI 31, 2016

VZGLYAD

Rusia dan Indonesia telah menandatangani kesepakatan perukaran informasi intelijen dan meningkatkan kontak antarlembaga penegak hukum.

Host Photo Agency

Kesepakatan kerja sama antara badan intelijen Rusia dan Indonesia menjadi pertanda baik bagi kedua negara. Hal itu juga menunjukkan bahwa Moskow dan Jakarta telah belajar dari pengalaman buruk tahun 1960-an, ketika CIA memiliki akses untuk mendapatkan informasi rahasia mengenai pengiriman senjata Soviet ke Indonesia.

Rusia dan Indonesia telah menandatangani kesepakatan perukaran informasi intelijen dan meningkatkan kontak antarlembaga penegak hukum.

“Kami juga tertarik dalam pembangunan dan pengembangan kerja sama lebih lanjut untuk mengatasi tantangan dan ancaman, terutama di bidang antiterorisme,” kata Presiden Indonesia Joko Widodo kepada wartawan setelah percakapan panjang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Sochi, 19 Mei lalu.

Perang Melawan Terorisme

Data spesifik milik Indonesia mana yang menarik perhatian intelijen Rusia masih diperdebatkan. Jokowi, meski demikian, menyatakan dengan jelas bahwa kedua negara akan berkerja sama dalam memerangi terorisme.

Indonesia merupakan negara dengan popoulasi muslim terbesar di dunia dan kerap menjadi target serangan teroris. Tak banyak informasi terkait pergulatan tersebut, sehingga Rusia sangat tertarik mengorek data semacam itu dari Indonesia. Kualitas, reliabilitas, dan manfaat informasi tersebut akan ditaksir satu-persatu oleh pakar, yang akan membandingkannya dengan masukan dari sumber lain.

Anehnya, Indonesia merupakan negara pertama di wilayah tersebut yang menandatangani kesepakatan dengan Rusia. Bahkan Vietnam belum menandatangani kesepakatan intelijen dengan sekutu lamanya ini.

Kunjungan Kepala FSB Rusia ke Jakarta

Pada awal Februari 2016, Kepala Badan Keamanan Federal Federasi Rusia (FSB) Nikolai Patrushev berkunjung ke Jakarta untuk bertemu dengan presiden RI di Istana Merdeka.

Berdasarkan hasil pertemuan tersebut, Indonesia memandang perlunya bekerja sama dengan intelijen Rusia. Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan menilai kerja sama dengan intelijen Rusia akan memberi banyak manfaat. Menurut Luhut, selama ini Indonesia lebih fokus bekerja sama dengan intelijen Barat, khususnya Amerika Serikat.

Karena itu, pemerintah Indonesia dan Rusia akan bekerja sama dalam pertukaran informasi intelijen. Kerja sama di bidang intelijen ini terutama ditujukan untuk memberantas terorisme dan narkoba.

Mempertahankan Netralitas

Alasan lain di balik penandatanganan kesepakatan adalah keinginan Indonesia untuk mendiversifikasi ikatan militer dan intelijennya dan perlahan mundur dari CIA dan lembaga intelijen Australia.

Hal tersebut didorong oleh prinsip netralitas, yang dianut Indonesia dalam kebijakan luar negeri mereka.

Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, baik Moskow dan Indonesia harus mengambil pelajaran dari pengalaman buruk tahun 1960-an, ketika CIA mendapatkan akses informasi mengenai pengiriman senjata Soviet ke Indonesia. 

Dukungan untuk Soekarno

Pada 1960-an, Indonesia — yang kala itu dipimpin oleh Presiden Soekarno — terlibat dalam beberapa konflik dengan tetangganya.

Dalam waktu yang relatif pendek setelah Indonesia mengusir Belanda dari bagian barat Pulau Papua, mereka meluncurkan ‘Konfrontasi’, sebuah perang yang tak dideklarasikan dengan Malaysia. Konflik tersebut berakhir tiga tahun kemudian dengan pengakuan Indonesia atas Malaysia sebagai negara merdeka.

Soekarno mendapat dukungan militer dari Uni Soviet, yang tertarik dengan kecondongan sang pemimpin terhadap paham sosialisme. Jakarta menerima senjata bernilai miliaran dolar dari Uni Soviet.

Diyakini bahwa faktor penentu kalahnya Belanda di Irian Barat ialah karena bantuan kapal selam Soviet di sekeliling Pulau Papua. Kehadiran Soviet menumpulkan AL Belanda, yang kapalnya terkurung di pelabuhan.

Beberapa tahun kemudian, di bawah kepemimpinan Suharto, Portugal dipaksa meninggalkan Timor Timur, yang kemudian menjadi negara merdeka pada 2002. 

Mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi di wilayah tersebut, CIA meluncurkan Habrink, sebuah operasi skala besar di Indonesia. Tujuan Habrink adalah mengumpulkan informasi mengenai semua senjata yang ditransfer Uni Soviet pada Jakarta. 

CIA vs. KGB di Indonesia

Badan intelijen Indonesia saat itu masih terbilang muda dan dalam proses pertumbuhan. Lembaga tersebut mayoritas berisi para mantan pejabat militer Jawa yang dulunya merupakan bagian dari tentara kolonial Belanda.

CIA berhasil menyogok pejabat Indonesia, yang menyerahkan dokumen serta informasi mengenai senjata Soviet. 

Pada pertengahan 1970-an, agen CIA David Barnett, yang bekerja di Konsulat AS di Surabaya pada era Soekarno, berhasil merekrut warga Soviet.

Setelah pensiun dari CIA, Barnett pindah ke Indonesia dan membuka penangkaran udang, yang kemudian bangkrut. Ia lalu menjual data mengenai Operasi Habrink pada KGB senilai 100 ribu dolar AS.

Pada 1979, ia dikhianati oleh pengkhianat KGB, yang direkrut oleh CIA di Indonesia. 

Barnett dihukum 18 tahun penjara, tapi ia dibebaskan pada tahun 1990. Cerita ini masih sering terdengar hingga hari ini di kalangan komunitas intelijen.

Moskow kini hendak melindungi dirinya sendiri dari kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu. CIA tentu akan tertarik pada senjata Rusia yang diekspor Indonesia.

Apa yang Menarik Perhatian CIA Sekarang?

CIA mungkin tertarik pada banyak detail yang selalu mendampingi kontrak skala besar bagi pasokan senjata: skema pendanaan, perantara, lokasi pertemuan, dan kapal transport.

Dan pihak Rusia ingin Indonesia setidaknya mengabari mereka mengenai upaya Rusia untuk merekrut pejabat yang tergabung dalam kerja sama Rusia-Indonesia.

Jika pihak Rusia dan Indonesia mau berusaha, mereka bisa mempertahankan kerahasiaan transfer senjata tersebut. Di Amerika Latin, hal ini tak mungkin.

Sebuah kerja sama intelijen tak selalu didampingi kontrak pasokan militer. Jadi, Indonesia bisa menyatakan bahwa hal ini tak melanggar prinsip netralitas mereka.

Masalah yang terlihat jelas di negara tersebut adalah kekacauan lembaga intelijen Indonesia. Janji-janji posisi kunci kadang diberikan dengan prinsip kolusi dan nepotisme. Selain itu, badan intelijen Indonesia masih lebih banyak digunakan untuk menyelesaikan masalah internal, bukan memastikan kerahasiaan dan aktivitas intelijen yang sesungguhnya.

Mengamankan Rahasia Bisnis

Kesepakatan Rusia-Indonesia berisi sejumlah poin tambahan, yang kini umum bagi semua lembaga intelijen dunia. Hal yang paling penting ialah aspek ekonomi dalam badan intelijen dan memastikan kerja sama informasi keamanan.

Kontrak sipil bernilai miliaran dolar di bidang migas dan transportasi jalur kereta juga perlu dirahasiakan.

Hal lain yang perlu diperhatikan ialah keamanan kapal dagang dan kapal ikan di perairan Indonesia (terutama di Selat Malaka). Ancaman bajak laut di wilayah ini sama tingginya dengan di wilayah Yaman dan Somalia. 

Namun, kesepakatan kerja sama intelijen Rusia dan Indonesia sangat menjanjikan. Namun yang paling penting, kesepakatan ini perlu diimplementasikan dan berfungsi seperti yang diharapkan, tak hanya sekadar kata-kata kosong belaka.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia oleh Vzglyad

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

Sunday, 11 February 2018

180 Uni Pesawat Tempur Diprediksi Terkumpul di MEF Ketiga

    Pengamat Pertahanan dan Alutsista TNI, Jagarin Pane dalam sebuah ulasannya membeberkan bahwa Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau) saat ini sedang membentuk Koopsau III di Biak. Demi menunjang kelancaran program, diperkirakan pada program Minimum Essential Force TNI (MEF) ketiga, jumlah pesawat tempur yang dimiliki sudah mencapai 180 unit dari berbagai jenis.

“Pangkalan angkatan udara Biak secara infrastruktur sudah ready for use sebagai markas Koopsau III sekaligus home base jet tempur,” ungkap Jagarin dikutip dari keterangan tertulis, Senin (11/2/2018).

Saat ini lanjut Jagarin, untuk Koopsau I berkedudukan di Jakarta, sementara untuk Koopsau II berada di Makassar. Jumlah pesawat tempur berbagai jenis yang dimiliki saat ini berjumlah 116 unit. “Prediksi pesawat tempur sampai MEF ketiga adalah 180 unit,” sambungngnya.

Dirinya menambahkan, hal yang menarik dari pengembangan serba tiga itu kesemuanya membutuhkan tambahan 3 skadron jet tempur untuk TNI AU, tiga puluhan kapal perang untuk TNI AL dan tigaratusan Tank berbagai jenis yang dibutuhkan TNI AD.

“Dan yang juga tidak kalah penting adalah semua program hebat itu akan diselesaikan dalam serial MEF yang ketiga periode 2019-2024,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Wakil Menteri Pertahanan Indonesia era SBY, Sjafrie Sjamsoeddin (2017) menjelaskan industri pertahanan sebagai komponen pendukung dalam sistem pertahanan negara merupakan faktor determinan yang perlu terus dikembangkan sesuai dinamika perubahan strategis.

Menurutnya, industri pertahanan saat ini masih lebih pada pembangunan teknologi pertahanan yang terlihat (tangible) untuk keperluan alutsista darat, laut dan udara. Tetapi lanjut Sjafrie, di masa depan perlu dikembangkan juga pada kemampuan lain seperti rekayasa perangkat lunak untuk keperluan-keperluan sistem yang berorientasi pada perangkat lunak (software based system). Antara lain seperti simulator, artificial intelligence, robot, dan juga dalam rangka meningkatkan kemampuan asimetris seperti cyber.

Hal ini untuk kebutuhan informasi dan komunikasi khususnya kemampuan intelligence, surveillance and recognition (ISR). Selain itu, kata Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, industri pertahanan harus mampu mengakomodasi pencapaian-pencapaian teknologi dan ilmu pengetahuan lainnya yang didapat oleh para anak bangsa. (red)

Pewarta: G Wibisono

Friday, 2 February 2018

AS kehilangan kekuatan terkhirnya di SURIAH

Oleh: Daniel Bucksbaum (The Jerusalem Post)

Turki sedang memperkuat perannya sebagai pengambil keputusan utama di Suriah, bersama dengan Rusia dan Iran. Kampanye Turki yang terus berlanjut melawan pasukan Kurdi yang bersekutu dengan Amerika Serikat(AS), adalah awal dari sebuah konflik yang akan memperpanjang perang sipil selama bertahun-tahun, dan sangat merusak pengaruh AS di Suriah, sehingga membuat kekuatan terakhir Amerika Serikat di Suriah menghilang.

Seiring rezim Assad merebut lebih banyak wilayahnya di Suriah—sebagian berkat dukungan udara Rusia dan pasukan darat yang disediakan oleh Iran—banyak yang mulai percaya bahwa perang sipil Suriah sudah mereda.

Namun, Operasi Cabang Zaitun (Operation Olive Branch) Turki, yang merupakan sebuah upaya untuk membersihkan para pejuang Kurdi dari kota utara Afrin, menggambarkan babak baru dalam konflik tersebut.

Meskipun rezim Assad menegaskan kembali kehadirannya di seluruh negeri dan ISIS hampir dikalahkan, perang tidak akan berakhir pada tahun 2018. Bukannya mereda, perang memasuki tahap baru dari konflik dengan intensitas rendah di negara tersebut, dengan potensi besar untuk meningkat menjadi konfrontasi langsung antara negara-negara di wilayah tersebut seperti Rusia, Iran, Turki, atau Amerika Serikat. Seiring negara-negara ini dan para perwakilan mereka berebut untuk memperkuat kendali mereka atas wilayah-wilayah utama dan melindungi kepentingan masing-masing, tetapi AS malah kehilangan kekuatan terakhir Amerika Serikat di Suriah, karena tindakan sekutu NATO-nya tersebut.

Operasi Cabang Zaitun Turki—sebutan untuk serangan Turki terbaru ke Suriah utara—diluncurkan pada awal bulan ini, dan merupakan bagian dari kampanye besar untuk menciptakan “zona keamanan” seluas 30 kilometer di sepanjang perbatasan Suriah-Turki. Setelah mencapai tujuannya untuk mengusir 8 ribu-10 ribu pejuang YPG dan afiliasinya dari Afrin, Turki berencana untuk melanjutkan operasinya ke arah timur, lebih dalam ke wilayah yang dikuasai Kurdi.

Kampanye udara Turki telah dimulai di markas Kurdi di Manbij, kira-kira 100 kilometer arah timur Afrin. Hampir dua ribu personel militer AS tergabung dalam unit YPG di wilayah ini, yang telah ditempatkan di sana untuk bertindak sebagai penghalang bagi kemungkinan serangan Iran, Rusia, atau Turki terhadap YPG. Rencana itu telah berhasil sejauh ini; Tidak ada negara besar yang mengambil risiko menyerang pasukan AS.

Dengan menghilangnya kekuatan terakhir Amerika Serikat di Suriah, para pejabat militer Amerika mengumumkan tidak lama sebelum dimulainya operasi Turki, keinginan mereka untuk menciptakan pasukan keamanan beranggotakan 30 ribu personel yang dapat memberikan keamanan dan stabilitas di Suriah utara di sepanjang perbatasan Turki. Tujuan keseluruhan AS, seperti yang dinyatakannya, adalah untuk mencegah munculnya kembali ISIS di wilayah itu. Turki telah menyerukan dibentuknya zona penyangga di sepanjang perbatasannya dengan Suriah sejak tahun 2012. Sekarang, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menuduh AS mencoba untuk mendirikan “negara teror” di sepanjang perbatasannya.

Erdogan bertekad untuk mencegah Suriah utara menjadi basis YPG, dimana serangan teroris dapat diluncurkan ke Turki oleh PKK—sebuah kelompok yang diakui secara internasional sebagai teroris Kurdi, dan telah diperangi oleh Turki selama beberapa dekade. Suriah yang dikuasai Kurdi adalah bagian yang relatif stabil di negara ini, dan banyak masyarakat Suriah yang mencari perlindungan dari beberapa kota besar, seperti Aleppo, Homs, dan Daraa, pada awal dimulainya perang tersebut.

YPG dan PYD menginginkan otonomi daerah di sebuah federasi Suriah.

Saat ini, mereka menguasai hampir seperempat wilayah Suriah, termasuk beberapa lahan pertanian terbaik di negara ini, dan bendungan Tabqa yang sangat penting. Sebuah kampanye Turki yang diperbarui untuk mengurangi pasukan Kurdi di Suriah utara—terutama dengan dukungan dari Rusia dan AS, seperti serangan ini—akan menyebabkan krisis kemanusiaan di masa mendatang, dan akan memperpanjang perang.

Dengan hilangnya kekuatan terakhir Amerika Serikat di Suriah, kini AS tidak lagi memiliki peran penting dalam menentukan masa depan Suriah. Satu-satunya sekutu yang bisa diandalkannya adalah unit YPG di utara, dan melalui persetujuan diam-diamnya, Washington mengizinkan Turki untuk melemahkan kekuatan YPG dengan sangat parah. Tanggapan Washington terhadap operasi ini sangat menunjukkan kemampuannya untuk mengendalikan situasi. Pernyataan klasik “latihan menahan diri”, menunjukkan kurangnya pengaruh AS terhadap Turki, yang saat ini menjadi pemain yang jauh lebih kuat dan berpengaruh di Suriah.

Selain itu, juru bicara Departemen Luar Negeri AS mendesak Turki untuk menghindari pengalihan kekuatan dari perang melawan ISIS—dimana AS kemungkinan secara naif percaya bahwa hal itu masih menjadi prioritas utama Turki di Suriah. Sisa-sisa ISIS yang terakhir, antara ada di sepanjang perbatasan Golan Israel atau dikalahkan di wilayah tenggara, di sepanjang perbatasan dengan Irak, oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan pasukan terkait.

Sementara itu, menghilangnya kekuatan terakhir Amerika Serikat di Suriah, membuat Turki menggantikan AS sebagai perwakilan de facto untuk pasukan oposisi Suriah pada tahap diplomatik. Turki memiliki pengaruh signifikan terhadap Tentara Nasional Suriah, yang merupakan sebuah kumpulan bekas milisi Tentara Pembebasan Suriah dan kelompok-kelompok Islam. Turki telah melakukan negosiasi atas nama mereka di Astana, Kazakhstan, secara langsung dengan Iran dan Rusia yang mewakili kepentingan rezim Assad.

Namun, kepentingan Turki tidak mewakili kekuatan oposisi yang diwakili. Turki sekarang telah memprioritaskan untuk melemahkan Kurdi dan mengamankan perbatasannya karena perubahan rezim, yang merupakan tujuan utama kelompok FSA dan Islamis yang diawasi oleh Turki. Dengan terlibat langsung dengan Rusia dan Iran di Astana, Turki telah menjadi pengambil keputusan utama di Suriah, tidak termasuk AS karena kekuatan terakhir Amerika Serikat di Suriah telah menghilang.

Sebuah konvoi militer Turki tiba di sebuah desa di perbatasan Turki-Suriah di provinsi Kilis. (Foto: Reuters)

Di Astana, negara-negara besar ini menyetujui “zona de-eskalasi” tanpa masukan dari AS, yang membuat negara-negara tersebut dikritik oleh Israel, dengan alasan khawatir akan kehadiran Iran yang terlalu dekat dengan Dataran Tinggi Golan. Kesepakatan ini juga memungkinkan akses Turki ke Idlib yang dikuasai pemberontak, dan memberikannya pengaruh yang lebih strategis. Selain unit YPG di utara, AS telah kehilangan hampir semua pengaruh di negara tersebut melalui kelompok proxy, dan tidak memiliki pengaruh politik dalam negosiasi atau perundingan damai apa pun.

Iran, Rusia, dan Turki semuanya memiliki kepentingan yang bertentangan di Suriah.

Tujuan utama Turki adalah menciptakan zona penyangga di utara, mengamankan perbatasannya, dan menghancurkan pasukan Kurdi. Idealnya, dalam jangka panjang, Turki ingin mencaplok sebagian Suriah utara, untuk memastikan bahwa wilayah tersebut tidak akan menjadi markas YPG atau PKK. Turki akan menerima sebuah federasi Suriah atau resolusi politik lainnya dalam konflik tersebut, asalkan masyarakat Kurdi tidak mendapatkan otonomi.

Rusia juga akan menyelesaikan sebuah resolusi politik, yang telah berusaha dinegosiasikan selama bertahun-tahun hingga saat ini. Rusia tidak ingin mengulangi kesalahan AS di Timur Tengah, dan menemukan dirinya terperangkap dalam pekerjaan tanpa henti dan konflik yang sangat buruk. Rusia dan Turki telah bekerja untuk mencapai solusi politik, dan AS belum diikutsertakan.

Iran, bagaimanapun, telah menginvestasikan lebih banyak modal, sumber daya, dan tenaga kerja daripada kedua negara ini. Iran telah bekerja tanpa kenal lelah untuk mendapatkan kehadiran yang sekarang Iran miliki di Suriah barat daya, yang mendekati perbatasan Israel dan Lebanon, dan Iran tidak akan menyerah. Iran juga tidak akan berhenti sebelum mendapatkan kemenangan militer penuh di negara tersebut, dimana hal ini menyulitkan Rusia, Turki, dan Amerika Serikat, yang semuanya menginginkan sebuah resolusi politik secepatnya.

Selain memperlunak kepentingan Rusia dalam perundingan damai Suriah, Turki telah membuat kesepakatan pertahanan dan perdagangan besar dengan Rusia.

Turki baru-baru ini setuju untuk membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia yang terkenal. Dengan memperoleh landasan strategis di Suriah, dan memulai kampanye yang berkepanjangan melawan satu-satunya kekuatan terpercaya AS di negara ini, Turki telah menggantikan AS sebagai pemain dominan di pihak oposisi. Hal ini sebagian disebabkan oleh dinamika perubahan perang selama bertahun-tahun.

Ambisi regional telah berubah, dan persekutuan telah berubah. Hampir semua suara anti-pemerintah dan pemimpin yang menyerukan perubahan rezim, telah hilang. Tidak ada kekuatan oposisi gabungan yang mungkin bisa menggulingkan dan menggantikan rezim saat ini, bahkan tanpa campur tangan Rusia atau Iran. Untuk negara-negara di wilayah tersebut, mengalahkan ISIS adalah bagian yang mudah. Itu adalah satu-satunya konflik di Suriah yang bisa mereka lihat sebagai musuh bersama. Tapi di saat sekarang ISIS hampir dikalahkan, Turki kembali fokus pada masyarakat Kurdi, yang merupakan sekutu AS terakhir yang dapat diandalkan di Suriah.

Negara-negara kuat di Suriah saat ini adalah Rusia, Iran, dan Turki. AS harus mengambil sikap yang lebih keras terhadap operasi Turki di wilayah yang dikuasai Kurdi tersebut, atau Amerika tidak akan ada lagi di masa depan Suriah.

Friday, 8 December 2017

Poros Maritim Dunia, Perang Asimetris antara Pancasila dengan Zionisme Oleh: Letkol Laut P (Salim)* 


To Build The World A New Versus To Build a New World

Pada 30 Septembe 1960, Gedung PBB, New York, Amerika Serikat menjadi saksi dari peristiwa penting yang bukan saja dialami oleh Indonesia tetapi juga oleh dunia. Pada hari itu, Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno atau yang biasa akrab disapa Bung Karno berkesempatan menyampaikan gagasan di depan para pemimpin-pemimpin negara di PBB. Pidato yang berjudul To Buid The World A New (Membangun Dunia Kembali) dengan durasi sekitar 90 menit itu telah menggemparkan dunia. Pasalnya, isi pidato yang disampaikan dengan penuh semangat dan berapi-api itu menelanjangi habis-habisan sistem atau konsep yang dibangun oleh barat selama berabad-abad serta dampaknya pada keberlangsunan dunia.

Penyampaian pidato yang diawali dengan mengutip ayat-ayat dalam kitab suci itu mengisyaratkan mengenai arti pentingnya pertemuan antar bangsa dalam bingkai perdamaian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan wadah yang tepat sebagai ajang pertemuan itu yang dihadiri oleh berbagai macam bangsa.

Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur’an berkata: “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia diantara kamu sekalian, ialah yang lebih taqwa kepadaKu”. Dan juga Kitab Injil agama Nasrani beramanat pada kita. “Segala kemuliaan bagi Allah ditempat yang Mahatinggi, dan sejahtera diatas bumi diantara orang yang diperkenanNya”.

Saya sungguh-sungguh merasa sangat terharu melepaskan pandangan saya atas Majelis ini. Di sinilah buktinya akan kebenaran perjuangan yang berjalan bergenerasi. Di sinilah buktinya, bahwa pengorbanan dan penderitaan telah mencapai tujuannya. Di sinilah buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku, dan bahwa beberapa kejahatan besar sudah dapat disingkirkan. Selanjutnya, sambil melepaskan pandangan saya kepada Majelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan yang besar dan hebat. Dengan jelas tampak di mata saya menyingsingnya suatu hari yang baru, dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika. (Kutipan Pidato Sukarno di PBB tahun 1960, Departemen Penerangan RI)

Paragraf awal pidato tersebut menerangkan dalam Hukum Tuhan dijelaskan manusia terdiri dari berbangsa-bangsa dan bersuku-suku kemudian yang membedakan kemuliaan dari setiap manusia hanya ketakwaannya kepada Tuhan. Sehingga dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia sudah menjadi sunatullah jika ada bangsa yang membuat kerusakan dan ada yang membuat perbaikan. Keduanya akan senatiasa berjalan bersamaan sampai akhir zaman. Namun Indonesia dengan konsepsi Pancasila-nya memberikan pandangan dan arah kepada dunia yang diawali dengan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Di mana konferensi itu menghasilkan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang kemudian disebutkan sebagai matahari yang sudah lama diimpikan.

Sejak abad 15, bangsa –bangsa barat dengan semboyan Gold, Glory, dan Gospel (3G) telah mengarungi samudera untuk mencari daerah-daerah penghasil rempah-rempah. Alih-alih ingin berdagang, akhirnya mereka menguasai satu per satu hingga menanamkan suatu sistem atau konsepsi yang membuat ketidak teraturan dunia bahkan sampai dengan hari ini. Dengan konsepsi yang ditanamkan itu, pembentukan negara yang kuat dan perang ekonomi menjadi tujuan akhir untuk penguasaan dunia di bawah satu kendali kaum yang sudah lama terusir dari kampung halamannya.

Pancasila dan NKRI

Sistem yang bernama To Build The New World atau To Build The New Order sudah didengungkan selama berabad-abad yang kelak akan membawa titik nadir kehancuran bagi kehidupan manusia. Pada kesempatan 30 Sepetember 1960 itu, Sukarno yang merupakan jebolan perkumpulan Gang Peneleh (Rumah HOS Tjokroaminoto) di Surabaya sudah membaca konstelasi tersebut saat usianya masih relatif muda. Ketika tampil menjadi pemimpin bangsa Indonesia, Sukarno bersama para tokoh atau pemuka bangsa Indonesia mulai menelurkan gagasan untuk melakukan kontra terhadap konsepsi tersebut.

Alhasil, pada tahun 1945, konsepsi yang bernama Pancasila telah dimufakati oleh para pemuka-pemuka bangsa Indonesia dalam sidang BPUPKI dan PPKI menjelang kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pancasila yang tertuang kemudian di dalam Pembukaan UUD 1945 menjadi dasar terbentuknya Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 18 Agustus 1945. Meskipun di dalam negeri, sejak awal kemerdekaan konsepsi tersebut cenderung ditinggalkan bahkan sempat berganti konstitusi pada tahun 1949 dan 1950, namun di kancah internasional tetap dijadikan simbol perlawanan kepada kolonialisme dan imperialisme bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Kepercayaan diri Sukarno semakin meningkat pasca dikeluarkannya Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 yang berisikan kembali ke UUD 1945. Dalam kurun waktu setahun setelah dikeluarkannya dekrit, Sidang Umum PBB ke XV di New York tanggal 30 Sepetember 1960 segera diselenggarakan. Akhirnya Sukarno yang didaulat pula sebagai juru bicara dari negara-negara seperti Yugoslavia, Ghana, India, Persatuan Arab, dan Birma menjadi orator di hadapan pimpinan majelis Sidang Umum PBB.

Momentum itulah yang dijadikan kesempatan untuk melawan konspirasi negara barat yang telah menguasai dunia dan membawa ketidak teraturan negara-negara di dunia dengan suasana konflik yang diciptakannya. Konflik yang berkepanjangan dari masa Perang Dunia I, Perang Dunia II, kemudian memasuki era Perang Dingin, yang sebenarnya hanyalah perang di antara mereka yang memperebutkan lahan ekonomi dan menanamkan pengaruh untuk ikut blok-blok yang bertikai.

Dengan kondisi demikian, pandangan Sukarno untuk menyerukan perdamaian dunia sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 menjadi tawaran yang dibalut dengan istilah To Build The World A New. Artinya, dengan istilah itu maka ada suatu rumusan bilamana dunia ingin damai maka hanya Pancasila yang dapat dijadikan konsepsi bukan konsepsi seperti Kolonialisme dan Imperialisme beserta turunannya yang sudah usang, serta telah terbukti terus membuat kerusakan di muka bumi selama berabad-abad. Oleh karena itu, Pancasila menjadi suatu kebenaran universal yang dapat diterima oleh setiap bangsa.

Hal itu membuktikan bahwa Pancasila sebagai Ubiquitous Factor yakni merupakan faktor yang berada di mana-mana. Artinya Pancasila merupakan kebenaran yang didasari dari nurani manusia atau Social Conscience of Man, maka dari naluri alamiah manusia itu sejatinya menuju ke arah 5 sila yang dicetuskan oleh Sukarno pada 1 Juni 1945, yang kemudian disempurnakan lagi oleh Pantia 9 dalam Mukadimah UUD 1945. Hal itu kemudian diurai oleh Sukarno dari sila per sila di hadapan delegasi bangsa-bangsa di dunia secara detail dan seksama.

Jadi, dengan minta maaf kepada Lord RusselI yang saya hormati sekali, dunia ini tidaklah seluruhnya terbagi dalam dua fihak seperti dikiranya. Meskipun kami telah mengambil sarinya, dan meskipun kami telah mencoba mensintesekan kedua dokumen yang peting itu; kami tidak dipimpin oleh keduanya itu saja. Kami tidak mengikuti konsepsi liberal ataupun konsepsi komunis. Apa gunanya? Dari pengalaman kami sendiri dan dari sejarah kami sendiri tumbuhlah sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih sesuai, sesuatu yang jauh lebih cocok. Arus sejarah memperlihatkan dengan nyata bahwa semua bangsa memerlukan sesuatu konsepsi dan cita-cita. Jika mereka tak memilikinya atau jika konsepsi dan cita-cita itu menjadi kabur dan usang, maka bangsa itu ada dalam bahaya. Sejarah Indonesia kami sendiri memperlihatkannya dengan jelas, dan demikian pula halnya dengan sejarah seluruh dunia.

“Sesuatu” itu kami namakan “Panca Sila”. Ya, “Panca Sila” atau Lima Sendi Negara kami. Lima Sendi itu tidaklah langsung berpangkal pada Manifesto Komunis ataupun Declaration of Independence. Memang, gagasan-gagasan dan cita-cita itu, mungkin sudah ada sejak berabad-abad telah terkandung dalam bangsa karni. Dan memang tidak mengherankan bahwa faham-faham mengenai kekuatan yang besar dan kejantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme menenggelamkan kami pada suatu saat kelemahan nasional. Jadi berbicara tentang Panca Sila dihadapan Tuan-tuan, saya mengemukakan intisari dari peradaban kami selama dua ribu tahun. (Kutipan Pidato Sukarno di PBB tahun 1960, Departemen Penerangan RI)

Sukarno menyatakan nilai-nilai Pancasila yang dikandung baik oleh manusia Indonesia selama dua ribu tahun maupun oleh bangsa-bangsa di dunia telah ditenggelamkan oleh imperialisme yang memaknakan sebagai desain pemikiran dari barat untuk merubah mindset tersebut, sehingga tergantikan dengan mindset barat. Hal demikian berdampak pada pola perilaku dan kehidupan manusia dari aspek budaya, hukum, sosial, politik, dan ekonomi-nya. Pada akhirnya, peperangan dan kerusakan lingkungan merupakan dampak yang tak dapat terbantahkan lagi dialami oleh seluruh penduduk bumi.

Usai pidato ini, pernah ada wartawan asing yang menulis judul pidato ini sebagai To Build a New World, Sukarno pun langsung somasi ke media tersebut untuk mengganti tulisan itu. Karena To Build a New World jelas berbeda arti dengan To Build The World A New, dan bisa menyesatkan pembacanya. Istilah To Build A New World pun sudah digunakan jadi tidak mungkin Sukarno menggunakan judul yang sama agar tidak dicap plagiator. Sepintas orang melihat ada kesamaan arti di antara kedua istilah tersebut, tetapi jika dilihat secara epistimologi, kedua istilah itu mengandung arti yang berbeda bahkan saling bertolang belakang.

To Build The World A New dimaknakan sebagai memebangun dunia kembali. sedangkan To Build a New World, membangun dunia yang baru. Membangun dunia kembali artinya membangun fitrah manusia di dunia yang sebelumnya berperilaku baik dan menjunjung tinggi akan Ketuhanan yang kemudian bergeser oleh arus kolonilisme dan imperialisme. Sehingga moral dan etikanya menjadi rusak, begitu pun dengan kehidupannya.

Gelora Perang Asimetris

Ya, sejak NKRI berdiri pada 1945 dengan konsepsinya (Pancasila-red) maka dengan itu pula negara baru ini harus siap berperang dalam bentuk apapun, baik fisik maupun non fisik. Karena mempertahankan ajaran itu perlu dengan peperangangan bahkan pengorbanan yang tidak sedikit. Seperti itulah yang telah digariskan dalam Lahul Mahfudz, antara hak dan batil yang selalu berhadapan dalam suatu front hingga berakhirnya dunia. Tinggal suatu pilihan, bagi Indonesia dan kita semua mau berada di front yang hak atau yang batil? Namun dalam suatu guratan sejarah, founding fathers kita telah tegaskan bahwa perjuangan bangsa Indonesia bukan hanya untuk bangsa Indoensia saja tetapi suatu perjuangan untuk umat manusia.

Maka dari itu sudah sewajarnya bila Indonesia selalu menjadi incaran dari negara-negara yang kerap membuat kerusakan di muka bumi. Tentunya dengan berbagai cara yang mereka lakukan untuk melemahkan bahkan menghncurkan kita.

Lihat saja dalam beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, Indonesia sudah dibombardir oleh Sekutu, Agresi Militer Belanda I, dan Agresi Militer Belanda II. Setelah itu ganti peperangan asimetris yang digulirkan sejak pembentukan Negara Boneka oleh Van Mook, Perundingan Linggarjati, Renvile, hingga Konferensi Meja Bundar (KMB) yang keseluruhannya tertuju pada hancurnya NKRI beserta hancurnya ajarannya, yakni Pancasila dan UUD 1945.

Dengan tegas, kejadian demi kejadian itu harus kita ladeni sampai benar-benar terjadinya kemenangan dari pihak kita. Sukarno pun berhasil membuka keran kemenangan saat Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dikumandangkan dan setahun kemudian melalui Politik Luar Negeri Bebas  Aktif, Indonesia menggelegar di Sidang PBB XV dengan konsepsi Pancasila yang ditawarkan kepada dunia. Praktis negara-negara yang terhimpun pada Old Emerging Forces (Oldefo) atau negara-negara dengan kekuatan dan konsepsi tua dibuat geram serta kebakaran jenggot. Ternyata ada negara yang baru berusia 15 tahun ingin meruntuhkan hegemoninya, namun anehnya bukan usianya yang belia melainkan ajaran yang dibawanya. Negara ini pun dianggap tengah mengetahui sepak terjang suatu kaum yang berada dibalik aktor terjadinya kekacauan dunia itu.

Poros Maritim Dunia

Dalam konteks poros maritim dunia saat ini sudah saatnya Indonesia berkaca pada sejarahnya, sejak lahir sebagai suatu bangsa sampai era 1960-an di mana Pancasila didengungkan ke seantero penjuru dunia. Akan tetapi sungguh ironis kemudian, bila hari ini kita mendengungkan poros maritim dunia, namun Pancasila sudah ditinggalakan oleh anak bangsa ini lalu apa yang menjadi dasarnya?

Padahal, Pancasila merupakan syarat utama untuk Indonesia bisa menjadi poros maritim dunia. Artinya hanya dengan kembali ke Pancasila dan UUD 1945 asli, poros maritim dunia dapat tegak. Tentunya bukan dengan membahas masalah-masalah turunan seperti dwelling time, perikanan, galangan kapal, hingga masalah-masalah perbatasan maritim yang saat ini ramai dibahas oleh publik. Langkah awal dengan membenahi filosofi dasar kita yang melenceng, penulis berkeyakinan masalah-masalah turunan itu akan teratasi.

Filosofi dasar kita, yaitu NKRI yang terbangun dari bangsa membentuk negara dengan Pancasila sebagai falsafah kehidupannya akan membentuk suatu tatanan negara maritim yang mumpuni baik dari segi budaya, hukum, sosial, politik, ekonomi dan lingkungan. Di situlah poros maritim dunia, bergema dan menjulang ke seluruh penjuru bumi. Filosofi itu yang bertolak belakang dengan filosofi yang dibangun oleh Zionisme dalam membangun tatanan dunia, yaitu dengan negara yang membentuk bangsa. Sehingga prinsip itu dikenal dengan pemerintahan demokrasi yang berorientasi pada kekuasaan belaka.

Mereka pun menggunakan maritim sebagai media membangun dan memperkokoh tatanannya. Dan kita pun harus demikian, dengan maritim kita membangun tatanan kita bersifat luhur dan berlawanan dengan tatanan mereka. Sudah benar presiden kita Joko Widodo dalam membangun wadah perlawanan tinggal kita isi wadah tersebut dengan prinsip dan karakter yang terbangun berdasarkan sejarah bangsa ini.

Kemudian, kita pun bukan hanya berjuang untuk bangsa kita saja melainkan untuk umat manusia di dunia sebagaimana Bung Karno cetuskan dalam pidatonya di Sidang PBB tahun 1960.

Insya Allah kemenangan ada di pihak kita, NKRI kembali kepada Pancasila dan mencapai poros maritim dunia, yaitu sebagai poros yang menerangi kehidupan dunia. Penulis yakin hal itu merupakan keniscayaan yang bergerak dalam guliran waktu. Teruslah berdoa dan berjuang untuk kita sekalian para pejuang maritim !!

(Bagian dari Buku ke-4, yang berjudul ‘Jalan Rakyat Melawan Rencana Besar Yahudi di Nusantara’).

Kehancuran Sebuah Negara “antara Palestina dan Indonesia”

Kehancuran Sebuah Negara “antara Palestina dan Indonesia”

Perubahan peradaban merupakan dua hal yang akan selalu kita hadapi dalam kehidupan. Tidak menutup kemungkinan akan menciptakan situasi kembali hancur atau kedalam kehidupan baru. Sejarah pertumbuhan umat manusia sering kali dihadapkan pada fase perubahan peradaban, bisa disebabkan oleh siklus bencana alam dalam skala yang sangat luas. Secara sosial maupun politik, perubahan peradaban sering kali dihentakan oleh dua faktor mendasar: pertama, penemuan teknologi, baik penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention). Kedua faktor tersebut bagaikan “nabi” kehidupan yang dapat menjadi obor yang merevolusi atau mengubah secara mendasar cara pandang, hubungan sosial dan tatanan ekonomi dan politik di dalam sebuah masyarakat. Dan situasi keretakan menuju perubahan peradaban ke depan telah berlangsung sekian lama dan memenuhi hampir seluruh syaratnya, menunggu tiupan terompet sangkakala.

Seluruh mata dunia saat ini tertuju kepada Yerusalem, kota yang memiliki status berada di bawah Resolusi PBB nomer 181 tertanggal 29 November 1947 dua tahun setelah Indonesia merdeka, resolusi tersebut menetapkan sebagai kota yang harus  tetap sesuai status quo atau kota Internasional. Dan secara politikpun tidak ada negara dimuka bumi ini yang mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel AS. Oleh karena itu secara hukum dan politik, posisi Palestina, dunia Arab, Islam dan Kristen masih cukup kuat untuk menghadapi zionisme yang didukung AS untuk memegang hegemoni kota Jerusalem.

Inilah merupakan puncak hegemoni penguasaan ladang minyak yang telah berlangung bertahun-tahun yang akan menghancurkan seluruh kawasan dibawah ketiak imperialisme. Ancaman dan pengaruh dari luar begitu dahsyatnya hingga meluluh lantakkan peradaban yang telah terbangun. Sejalan dengan di kawasan lain,  saya saksikan sendiri di seluruh Afrika yang tahun kemaren berakhir di Mali, peradaban Islam khususnya hancur beserta peninggalannya tinggal beberapa buah masjid di hamparan gurun yang penuh debu beterbangan. Bagaimana solusi konflik palestina Ini ? tergantung kepiawaian Bangsa Arab dan Palestina serta dunia unutk membangun kekuatan menghadapi As dan Israel, khususnya pada forum OKI yang yang digelar di Turki, 13 Des 2017.

Berkali kali saya mengutip apa yang dikatakan pak haris rusly tentang Teori tentang patahan sejarah sebetulnya telah diulas secara sempurna di dalam seluruh kitab agama samawi, baik Injil maupun al-Qur’an. Kisah umat nabi Nuh dan nabi Luth yang dimusnahkan oleh Tuhan adalah satu contoh patahan sejarah yang ditujukan untuk membentuk “trase baru”, pembatas atau demarkasi antara sejarah kehidupan lama umat manusia yang mengingkari nilai-nilai luhur dengan kehidupan baru umat manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusia, Persatuan, Kebersamaan dan Keadilan.

Demikian juga kisah pertarungan antara Sre Rama dan Hanoman berhadapan dengan sosok raja setan Rahwana atau kisah perang baratayudha antara Pandawa yang dipandu oleh Sre Kresna untuk memusnahkan kekuasaan Kurawa yang mengingkari nilai-nilai luhur adalah cerita dalam sudut pandang tradisi Hindu tentang patahan sejarah.

Jika kita cermati perkembangan ekonomi dan politik global saat ini, maka kita dapat melihat terbentuknya dua prasyarat fundamental yang akan menciptakan terjadinya “patahan sejarah” yang akan membentuk "trase baru" ke depan: Pertama, terbitnya matahari baru dari utara, meminjam istilah Bung Karno New Emerging Forces (NEFO), yang menantang dan menggerus pengaruh matahari tua dari barat atau Old Estabilished Forces (OLDEFO), yang sinarnya masih cukup terik.

“Hukum alam memastikan, jika ada dua matahari, yang bertujuan memperebutkan posisi orbit yang sama, maka pasti terjadi benturan. Pertanda dunia sedang menuju kiamat”.

Hadirnya China dengan cadangan devisa terbesar di dunia, tercatat 3,84 triliun pada Desember 2015, setara dengan 32,98 % dari total cadangan devisa dunia. Dengan cadangan devisa sebesar itu tak bisa dipungkiri telah menempatkan China sebagai calon “bos” baru dunia yang menantang dan bersaing keras menggusur dua bos lama dunia, Amerika dan Inggris yang mewarisi legenda kekuasaan emperium Romawi.

China hadir dengan ambisi akbarnya untuk memimpin, menyatukan, mendominasi atau mengkolonialisasi dunia melalui “legenda jalur sutra”. Awal mulanya adalah ketika Kaisar Han mengutus Zhang Qian mengunjungi kerajaan Dayuan di Asia Tenggara untuk membangun aliansi militer, perjalanan tersebut yang kemudian membentuk rute perdagangan legendaris yang dinamakan jalur sutra.

Oke sampai disitu jelas, Siapa yang akan menguasai di Timur Tengah dan di Asia Tenggara, Pertanyaannya kemudian bagaimana dengan Indonesia terkait judul tulisan diatas? Bila Palestine mengalami serangan yang dahsyat dari luar melalui sekutu AS bagaimana dengan Indonesia ? mari kita lihat cuplikan kata-kata ini. “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Banyak Negara yangg bangkrut, gagal dan pada akhirnya hilang dari muka bumi, karena tidak mau belajar dan mempelajari sejarah sejarah. Lihatlah bagaimana China akan menguasai dunia tak lain dan tak bukan karena China membangkitkan lagi sejarah jalur suteranya. Kembali ke kehancuran bangsa yang bisa dipercepat karena adanya warga yang berkhianat dan mempermudah musuh melakukan kooptasi. Kita sekarang sedang berada dalam kemelut situasi itu. Bagaimana tidak penguasan sumber daya alam kita sampai dengan saat ini? Jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan di Nusantara karena pengkhianatan rakyat sendiri terhadap kerajaannya.

Kecederungan terjadinya pelemahan jika dicermati dengan kaca mata pihak yang cinta NKRI, sangat jelas. Kecenderungan terus dibantah oleh " Pengkhianat " dalam negeri yang sengaja merongrong pemerintah maupun menggerogoti darah dan air mata rakyat melalui korupsi yang bernilai mampu untuk mensejahterakan jutan rakyat Indonesia.

“Dan kunci penyelesaian Palestina ada di Indonesia”

Sumber: Mbah Salim